Baiklah, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, berjudul 'Ia Menatapku Seolah Tak Kenal, Padahal Aku Pernah Jadi Dunianya', dengan sentuhan magis, melankolis, reinkarnasi, dan balas dendam yang halus: **Ia Menatapku Seolah Tak Kenal, Padahal Aku Pernah Jadi Dunianya** Wangi bunga plum merebak di taman istana. Di sanalah, di bawah pohon plum putih yang mekar sempurna, aku pertama kali melihatnya. Pangeran Lian, si **TAMPA** Kaisaran. Matahari sore menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti lukisan dewa. Dulu, dialah duniaku. Dulu, aku adalah dunianya. Sekarang? Ia menatapku seolah aku hanyalah debu jalanan. Namaku Lan Yin, bukan lagi Putri Ling Yue, pewaris takhta yang ia janjikan akan selalu dilindungi. Di kehidupan lalu, cinta kami bersemi di tengah intrik istana. Aku mempercayainya, menyerahkan segalanya padanya, bahkan takhta. Dan ia? Ia menikamku dari belakang, bersekongkol dengan selir kesayangannya, merebut takhta, dan membiarkanku mati dalam kesunyian dan pengkhianatan. Reinkarnasi adalah berkah dan kutukan. Ingatan tentang kehidupan lalu, tentang rasa sakit yang menganga, menghantuiku di setiap mimpi. Aku tahu, Pangeran Lian, atau lebih tepatnya Kaisar Lian sekarang, tidak mengingatku. Ia menjalani hidup barunya dengan bebas, tanpa beban. Tapi aku? Aku membawa bara dendam di dalam hatiku. Aku bekerja sebagai pelayan di istananya, menyamar di antara para pelayan lainnya. Setiap hari aku melihatnya, aura kekuasaan terpancar dari dirinya. Ia bahagia. *TERLALU BAHAGIA.* Awalnya, aku ingin balas dendam dengan cara kejam. Aku ingin ia merasakan sakit yang sama, bahkan lebih. Tapi kemudian, aku melihatnya. Selir Mei, wanita yang dulu bersekongkol dengannya, kini menjadi permaisurinya. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Aku menyadari, balas dendam terbaik bukanlah dengan membunuh, tapi dengan menghancurkan dunianya. Aku mulai menyebarkan desas-desus halus di kalangan istana. Tentang permaisuri yang konon katanya, menyimpan rahasia kelam. Tentang kesetiaan yang dipertanyakan. Aku membisikkan kata-kata yang akan meracuni pikirannya, membuat benih keraguan tumbuh di hatinya. Suatu malam, aku melihatnya memergoki Permaisuri Mei bertemu dengan seorang pria misterius di taman belakang. Matanya berkilat marah. Senyum sinis terukir di bibirku. Ia mulai meragukan wanita yang dicintainya, wanita yang pernah menjadi komplotannya. Ia akhirnya merasakan apa yang aku rasakan dulu: **PENGKHIANATAN.** Aku tahu, ini baru permulaan. Beberapa tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya. Bukan sebagai pelayan, tapi sebagai utusan dari kerajaan tetangga yang menawarkan aliansi. Aku melihat kerutan di wajahnya, kelelahan di matanya. Ia tidak lagi secerah dulu. Permaisuri Mei diasingkan ke kuil terpencil karena tuduhan pengkhianatan. Kerajaannya dilanda masalah. Ia menatapku, mencoba mengingat di mana pernah bertemu denganku. Ada sesuatu yang familier dalam diriku, sesuatu yang mengganggunya. "Siapakah namamu?" tanyanya dengan suara serak. "Lan Yin," jawabku, menatapnya lurus. "Hanya Lan Yin." Aku menolak aliansi. Aku memilih untuk mendukung kerajaan lain, membiarkan kerajaannya runtuh perlahan. Ia kehilangan segalanya: cinta, kekuasaan, dan kedamaian. Saat aku berbalik, aku mendengar bisikannya. "Ling… Yue?" Aku tersenyum tipis. Ia mulai mengingat. *TERLAMBAT.* Aku meninggalkan istana itu, meninggalkan reruntuhan dari kehidupan yang pernah aku impikan. Dendamku terbalaskan. Tapi, rasa sakitnya masih membekas. Aku berjanji pada diriku sendiri, di kehidupan selanjutnya, aku akan memastikan ia tidak pernah melupakanku. Dan saat itu tiba, dendam yang lebih membara akan menantinya… *Sampai jumpa, Lian. Dalam seribu tahun lagi.*
You Might Also Like: The Femme Fatales Of Film Noir Femme

0 Comments: