Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran Lantai dansa berputar, memantulkan ribuan bintang dari lampu kristal. Gaun sutra mera...

Cerita Populer: Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran Cerita Populer: Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran

Cerita Populer: Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran

Cerita Populer: Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran

Kau Mencintaiku Meski Tahu Akhirnya Hanya Kehancuran

Lantai dansa berputar, memantulkan ribuan bintang dari lampu kristal. Gaun sutra merahku menari bersamaku, menyembunyikan gemuruh badai di dalam dada. Di seberang sana, di tengah kerumunan pengagum, dia berdiri. Zhao Lin, dengan senyumnya yang dulu bagai matahari terbit, kini terasa seperti topeng yang menipu.

Dulu, senyum itu hanya untukku. Dulu, tangannya hanya menggenggam tanganku. Dulu, matanya hanya memandangku dengan cinta yang kurasa abadi.

Namun, waktu memang pandai mengubah segalanya. Seperti lukisan yang perlahan pudar, cinta itu terkikis, digantikan ambisi dan keserakahan. Zhao Lin, pria yang kukenal sebagai nahkoda hatiku, ternyata lebih memilih berlabuh di dermaga kekuasaan.

"Mei Hua," bisiknya saat mendekat, suaranya bagai beludru yang mengelus telinga. "Kau terlihat luar biasa malam ini."

Kebohongan. Kata itu bergaung dalam hatiku. Pelukan hangatnya dulu kini terasa beracun, sentuhannya membuatku merinding bukan karena cinta, melainkan jijik.

Dulu, aku rela memberikan segalanya untuknya. Tahta yang diincarnya, bahkan nyawaku sekalipun. Aku percaya pada janji-janjinya, kata-kata manis yang kini terasa seperti belati yang berkarat, menusuk perlahan namun menyakitkan.

Aku hanya tersenyum tipis, membalas pelukannya dengan anggun. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan histeris. Aku tidak akan memberinya kepuasan melihatku hancur. Aku sudah bertekad.

"Kau tahu, Lin," ucapku, suaraku tenang namun tegas. "Aku selalu mencintaimu. Bahkan ketika aku tahu, akhirnya hanya akan ada kehancuran."

Malam-malam berikutnya aku habiskan dengan mengumpulkan kekuatan. Membangun kerajaan yang lebih megah, melampaui mimpinya. Aku belajar, aku bekerja, aku berjuang. Bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri.

Dan akhirnya, saat yang kutunggu tiba. Zhao Lin, yang mengira dirinya menang, justru terperangkap dalam jaring yang kurajut dengan hati-hati. Perusahaannya bangkrut, reputasinya hancur, dan cintanya… ternyata cinta yang tulus hanya ada padaku.

Aku menemuinya di puncak kejayaanku. Dia menatapku dengan tatapan kosong, hancur. Tidak ada amarah, hanya penyesalan yang mendalam.

"Kau… kau melakukan ini?" lirihnya.

Aku mengangguk, senyumku dingin namun jujur. "Kau yang memulainya, Lin. Kau yang memilih jalan ini."

Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hanya tatapan kosong dan keheningan yang memekakkan telinga. Itulah balas dendamku yang paling manis: melihatnya merenungi penyesalannya selamanya.

Aku berbalik, meninggalkannya dalam kehancurannya. Air mata akhirnya menetes, bukan karena cinta, melainkan karena kehampaan.

Di kejauhan, suara musik berdendang, mengiringi langkahku menuju masa depan. Tapi aku tahu, bayangan Zhao Lin akan selalu menghantuiku.

Dan saat itulah aku menyadari, dengan getir: cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Tips Sunscreen Mineral Lokal Tanpa

0 Comments: