Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Aku Mencintaimu dalam Sunyi, karena Hanya Sunyi yang Bisa Memahami** Kabut menggantu...

Endingnya Gini! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami Endingnya Gini! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami

Endingnya Gini! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami

Endingnya Gini! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami

Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Aku Mencintaimu dalam Sunyi, karena Hanya Sunyi yang Bisa Memahami** Kabut menggantung di puncak Gunung *Huangshan*, menyelimuti bebatuan terjal dan pepohonan pinus kuno. Di tengah kabut itu, bayangan seorang pria muncul. Wajahnya pucat, rambutnya panjang tergerai, dan matanya... matanya memancarkan kesedihan abadi. Dia adalah Li Wei, yang lima tahun lalu dinyatakan tewas dalam pemberontakan di istana. Li Wei melangkah memasuki lorong istana. Sunyi. Hanya suara gemerisik sutra jubahnya yang memecah keheningan. Lorong itu, yang dulunya ramai dengan langkah kaki para kasim dan selir, kini kosong dan dingin. Seolah kematian Li Wei telah membekukan waktu. Di ujung lorong, dia menemukan Putri Mei Hua, satu-satunya orang yang dulu mencintainya dengan tulus. Mei Hua berdiri di depan kolam teratai, mengenakan gaun putih polos. Kecantikannya masih memukau, namun ada kerutan halus di sekitar matanya, bekas luka yang ditinggalkan kesedihan. "Li Wei?" bisik Mei Hua, suaranya bergetar. "Apakah... apakah itu benar-benar kau?" Li Wei mengangguk. "Mei Hua, aku kembali." Mei Hua berbalik, menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Tapi bagaimana mungkin? Semua orang melihat kau jatuh dalam kobaran api. *Siapa* yang menyelamatkanmu?" "Sunyi," jawab Li Wei, suaranya nyaris tak terdengar. "Hanya sunyi yang bisa memahami penderitaanku. Hanya kesepian yang menuntunku kembali." Mereka terdiam sejenak, dikelilingi oleh keheningan istana yang mencekam. "Kenapa kau kembali?" tanya Mei Hua, suaranya pelan. "Apa yang kau cari?" Li Wei melangkah mendekat. "Kebenaran. Dan balas dendam." Mei Hua menatapnya, ekspresinya berubah. "Balas dendam? Pada siapa? Kaisar?" "Bukan, Mei Hua. Bukan Kaisar." Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau." Keheningan kembali menguasai mereka. Mei Hua terhuyung mundur, tangannya menutup mulutnya. "Kau... apa maksudmu?" tanyanya dengan suara tercekat. "Kau pikir aku tidak tahu?" desis Li Wei. "Kau yang merencanakan pemberontakan itu. Kau yang menjebakku. Kau yang menginginkan takhta itu untuk dirimu sendiri." Mei Hua menggelengkan kepalanya, air mata mengalir di pipinya. "Itu tidak benar! Aku mencintaimu, Li Wei! Aku tidak akan pernah menyakitimu!" "Cinta?" Li Wei tertawa sinis. "Cinta macam apa yang mengkhianati? Cinta macam apa yang membunuh? Aku memang mencintaimu dalam sunyi, Mei Hua. Tetapi sunyi juga yang membisikkan KEBENARAN." Li Wei melangkah maju, mendekat pada Mei Hua. "Kau pikir aku korban, Mei Hua? Kau salah. Aku *selalu* memegang kendali. Aku membiarkan diriku 'mati' untuk melihat sejauh mana kau akan melangkah. Dan sekarang... aku tahu segalanya." Mei Hua berlutut di hadapannya, memohon ampun. "Jangan bunuh aku, Li Wei. Kumohon." Li Wei berjongkok, mengangkat dagu Mei Hua. Matanya bertemu mata Mei Hua yang dipenuhi ketakutan. "Bunuh kau?" bisik Li Wei. "Tidak, Mei Hua. *Itu* terlalu mudah. Aku akan membiarkanmu hidup. Hidup dengan rasa bersalah. Hidup dengan mengetahui bahwa aku, orang yang kau khianati, kini berdiri di atasmu." Li Wei berdiri, berbalik, dan melangkah menjauh. Meninggalkan Mei Hua yang berlutut di tengah lorong istana yang sunyi. Saat dia menghilang di antara kabut, dia mengucapkan satu kalimat terakhir, "Kau tahu, Mei Hua? *Kematian yang sebenarnya adalah ketika seseorang dilupakan*."
You Might Also Like: Metal Curtain Wall Curtain Wall Windows

0 Comments: