Baik, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut': **Tahta yang Bergetar Saat Nama Itu Disebut** Lorong Istana Timur itu sunyi senyap. Hanya desau angin malam yang berbisik di antara pilar-pilar batu yang menjulang, membawa aroma dupa cendana dan bayangan masa lalu. Kabut tipis menyelimuti halaman, bagai kerudung yang menutupi wajah kebenaran. Dulu, lorong ini riuh dengan langkah kaki *Pangeran Rui*. Kini, hanya debu yang menari di bawah rembulan. Pangeran Rui… nama yang lama dianggap terhapus dari catatan kekaisaran. Nama yang diyakini tenggelam bersama kapal yang karam sepuluh tahun lalu di Laut Selatan. Namun, malam ini, di ujung lorong, siluet seorang pria berdiri. Tinggi tegap, jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Wajahnya tertutup bayangan, tetapi matanya… mata itu memancarkan ketenangan yang menakutkan. "Sudah lama, *Kaisar*," suara itu berbisik, selembut sutra namun setajam pedang. Suara yang membuat Kaisar, yang duduk di singgasananya di ujung lorong, tersentak. Kaisar, yang dulunya adalah adik dari Pangeran Rui, memucat. “Rui… mustahil. Kamu sudah lama…” "Mati? Sayangnya, Yang Mulia," sosok itu melangkah maju, kabut seolah berbelah di hadapannya. "Beberapa takdir memang lebih rumit dari yang kau kira." Cahaya rembulan menyorot wajahnya. Wajah yang sedikit berubah, tetapi tetap memancarkan aura bangsawan yang tak terbantahkan. Pangeran Rui. “Bagaimana… bagaimana bisa?” Kaisar tergagap, tangannya mencengkeram sandaran singgasana. Rui tersenyum tipis. "Kau pikir aku tenggelam? Oh, Yang Mulia. Aku hanya bersembunyi, mengumpulkan kekuatan. Mempelajari **KEBENARAN**." Ia berhenti, menatap Kaisar dengan tatapan yang menembus jiwa. "Kau tahu, Yang Mulia, kecelakaan kapal itu… tidak seperti yang kau kira." Rui mendekat, langkahnya mantap, menghancurkan ketenangan istana yang dibangun di atas kebohongan. "Kau pikir aku adalah korban, adikku. Tapi kau SALAH. Aku adalah *DALANG* dari segalanya." Kaisar berusaha bangkit, tetapi kakinya terasa lemas. "Kau… apa maksudmu?" Rui berhenti tepat di depan singgasana. Matanya menyala. "Kau menginginkan tahtaku, adikku. Aku memberikannya padamu. Dengan satu syarat: kau akan menanggung beban rasa bersalah seumur hidupmu. Dan kau tahu apa? Itu JAUH lebih berharga daripada tahta ini sendiri." Ia membungkuk, berbisik di telinga Kaisar yang terdiam membatu. "Kau pikir kau yang berkuasa? Kau hanya menari di atas senar yang kupasang sejak awal." Kemudian, Pangeran Rui melangkah mundur, senyum kemenangan terukir di bibirnya. Kabut kembali menyelimuti lorong, menyembunyikan siluetnya. Di singgasana, Kaisar terduduk, matanya kosong. Tahta itu terasa dingin, bergetar hebat di bawah tubuhnya. Dan kebenaran akhirnya terungkap, begitu pahit dan menyesakkan: *Korban yang dikasihani itu, ternyata, adalah arsitek dari kehancuran mereka sendiri.*
You Might Also Like: Saint Francis Animal Hospital Augusta

0 Comments: