Di bawah cahaya sore yang merambat di layar retak ponselku, aku menatap fotomu. Pixel-pixel itu bergetar, sama seperti hatiku yang mendada...

Dracin Seru: Aku Menatapmu Di Bawah Cahaya Sore, Dan Tahu Dunia Tak Berpihak Pada Kita Dracin Seru: Aku Menatapmu Di Bawah Cahaya Sore, Dan Tahu Dunia Tak Berpihak Pada Kita

Di bawah cahaya sore yang merambat di layar retak ponselku, aku menatap fotomu. Pixel-pixel itu bergetar, sama seperti hatiku yang mendadak berdisko dengan irama melankolis. Namamu, tertera di atasnya, berkedip-kedip seperti lampu neon di lorong gelap sebuah karaoke usang. Aku tahu, dunia memang tidak berpihak pada kita.

Dunia kita, lebih tepatnya. Dunia yang kita tinggali terasa seperti dua sisi koin yang berbeda, tapi dilempar ke sumur yang sama. Kamu, katanya, hidup di masa lalu. Masa lalu yang bagiku hanyalah debu digital dalam arsip internet. Sementara aku, tersesat di masa depan yang dijanjikan, tapi terasa hampa seperti baterai ponsel di tengah hutan belantara.

Kita bertemu di antara sinyal hilang dan notifikasi yang tak pernah terkirim. Percakapan kita adalah puisi yang lahir dari tengah malam, di mana rindu menjadi bahasa utama, dan emoji hanyalah peluk virtual yang tak pernah sampai. Aku menunggu balasanmu, menatap status 'sedang mengetik' yang tak kunjung usai, seolah-olah di balik layar sana, kamu sedang merangkai bintang-bintang untuk dijadikan kalimat cinta.

Langit menolak pagi. Mentari enggan menyapa. Bintang-bintang menertawakan kita dari kejauhan, seolah tahu rahasia pahit yang belum kutemukan. Setiap kali aku mengirim pesan, aku membayangkan kamu menerima pesan itu melalui mesin tik kuno, atau mungkin, melalui burung merpati pos yang tersesat di labirin waktu.

Aku pernah mencoba mencari jejakmu di kota. Di kafe-kafe tua yang dipenuhi aroma kopi pahit dan nostalgia, aku mencari sosokmu yang katanya gemar membaca puisi di sudut ruangan. Di taman kota yang dipenuhi bunga sakura palsu, aku membayangkan kamu duduk di bangku kayu, merenungi arti kehidupan di tengah hiruk pikuk dunia modern. Tapi yang kutemukan hanyalah ECHO, jejakmu yang pudar, seperti lukisan di atas kanvas yang terlalu tua.

Lalu, suatu malam, saat aku menatap langit penuh bintang palsu yang dipancarkan oleh satelit buatan, aku menerima pesan. Bukan darimu. Tapi dari seorang pria tua, yang fotonya terasa familiar, meski aku tak pernah melihatnya sebelumnya.

"Cari ALEXA, di koordinat 34.0522° N, 118.2437° W," tulisnya. "Dia memegang kunci untuk membuka gerbang antara waktu. Dia akan menjel...". Pesan itu terputus.

Koordinat itu... Los Angeles. Tempat kamu sering ceritakan dalam mimpiku. Nama "Alexa"... itu nama aneh. Tiba-tiba, semuanya menjadi jelas. Cinta kita bukanlah takdir. Bukan pula kebetulan. Itu hanyalah GEMA dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kehidupan Alexa, nenek buyutku. Kehidupanmu. Dan kehidupan pria tua itu, diriku sendiri, yang terjebak dalam paradoks waktu!

Semuanya terhubung dalam jaring-jaring tak terlihat, di mana cinta, kehilangan, dan penyesalan berputar tanpa henti. Dan aku, hanyalah boneka yang menari mengikuti alunan melodi patah hati yang abadi.

Dan sebelum dunia padam, aku ingin mengirimkan satu pesan terakhir...

You Might Also Like: Jual Skincare Lokal Berkualitas Di

Istana megah ini berdiri angkuh, menampung gelak tawa yang terasa bagai desiran angin di telingaku. Di sinilah, kau bertahta, berbalut sut...

Cerpen Seru: Kau Hidup Di Istana, Aku Di Bayangan Dosa Cerpen Seru: Kau Hidup Di Istana, Aku Di Bayangan Dosa

Istana megah ini berdiri angkuh, menampung gelak tawa yang terasa bagai desiran angin di telingaku. Di sinilah, kau bertahta, berbalut sutra dan permata, disembah sebagai permaisuri yang anggun. Sementara aku… aku terdampar di tepiannya, di bayangan dosa yang membayangi setiap langkahmu.

Dulu, aku ingat betul, senyummu adalah mentari bagiku. Senyum yang kini kutahu adalah topeng. Pelukanmu, dulu terasa hangat dan melindungi, kini hanyalah belitan beracun yang mencekik jiwaku perlahan. Janji-janjimu, diukir indah di langit malam, kini menjelma menjadi belati tajam, menusuk jantungku tanpa ampun.

Aku ingat malam itu. Di bawah rembulan yang pucat, kau berbisik janji abadi. Kau genggam tanganku, berjanji setia hingga akhir hayat. Bodohnya aku! Tertipu pesonamu, aku serahkan seluruh hatiku. Sekarang, kau berdiri di altar dengan orang lain, tersenyum bahagia di pelukannya. Hatiku hancur berkeping-keping, namun aku tidak menangis. Tidak di hadapan mereka.

Aku belajar menjadi tenang. Aku menyembunyikan luka ini di balik eleganisiku. Gaunku menjuntai anggun, riasanku sempurna, wajahku tanpa cela. Aku adalah bayanganmu yang selalu ada, namun tak pernah kau lihat. Aku adalah hantu masa lalu yang akan terus menghantuimu.

Waktu terus bergulir. Kau menikmati hidupmu di istana, dikelilingi kemewahan dan pujian. Kau tidak tahu bahwa setiap langkahmu, setiap senyummu, setiap kebahagiaanmu, diawasi. Aku merajut benang-benang balas dendam bukan dengan darah, bukan dengan kekerasan. Balas dendamku adalah penyesalan abadi.

Aku tidak membunuhmu. Aku tidak merebut tahtamu. Aku hanya… membukakan matamu. Memperlihatkan kepadamu siapa dirimu sebenarnya. Aku mempersembahkan padamu cermin yang memantulkan wajahmu yang sebenarnya: seorang wanita yang haus kekuasaan, yang rela mengkhianati cinta demi ambisi.

Kulihat matamu membulat, napasmu tercekat. Kau terpaku, membisu. Penyesalan menggerogoti hatimu. Itulah yang kubutuhkan. Bukan darah, bukan kematian, tapi penyesalan. Penyesalan yang akan kau bawa hingga akhir hayatmu.

Aku berbalik, meninggalkanmu di istanamu yang megah, di tengah keramaian yang sunyi. Aku berjalan menjauh, menuju bayang-bayang di mana aku dilahirkan. Aku tidak tersenyum, aku juga tidak menangis. Hatiku hampa, namun aku puas.

Di kejauhan, kulihat kau terduduk di singgasanamu, menatap kosong ke arahku. Aku tahu, meski kau hidup di istana, kau kini terperangkap dalam penjara bernama penyesalan.

Langkahku terhenti. Aku berbisik pada diriku sendiri, "Cinta dan dendam… LAHIR DARI TEMPAT YANG SAMA."

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis

Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama Malam itu kelam. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menyaksikan ...

Endingnya Gini! Langit Yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama Endingnya Gini! Langit Yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

Malam itu kelam. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menyaksikan tragedi yang akan terukir di atas salju yang membeku. Di lembah terpencil, tersembunyi di balik reruntuhan kuil tua, asap dupa mengepul, membawa aroma pahit yang menyesakkan. Di tengahnya, berdiri Bai Lian, gaun merahnya bagai setetes darah di hamparan putih. Di hadapannya, berlutut pria yang dulu mengisi setiap inci hatinya: Jian Feng.

"Jian Feng," desis Bai Lian, suaranya serak, bagai gesekan batu. "Pandang aku. Berani kau tatap mata ini setelah semua yang kau lakukan?"

Jian Feng mengangkat wajahnya. Mata itu, yang dulu menyimpan kelembutan, kini penuh dengan penyesalan dan ketakutan. "Lian… maafkan aku."

Maaf? Kata itu terasa bagai ludah di wajah Bai Lian. MAAF?

"Maaf katamu?" Bai Lian tertawa sinis, suara tawanya bergema di keheningan malam. "Apakah maaf bisa menghapus darah yang kau tumpahkan? Apakah maaf bisa mengembalikan kehormatan keluargaku yang kau renggut?"

Ingatan itu kembali menghantui Bai Lian: malam pembantaian, api yang membara, jeritan kesakitan, dan wajah-wajah yang tak berdosa meregang nyawa. Semua itu, atas perintah Jian Feng. Demi kekuasaan, demi ambisi, dia mengkhianati segalanya. Termasuk dirinya.

"Aku… aku terpaksa," lirih Jian Feng, mencoba meraih tangan Bai Lian. "Aku tidak punya pilihan."

Bai Lian menepis tangannya dengan kasar. "Pilihan? Kau selalu punya pilihan! Tapi kau memilih untuk menjadi iblis!"

Dulu, di bawah pohon sakura yang mekar, mereka berjanji untuk saling melindungi, untuk mengarungi badai bersama. Janji itu, kini hanya abu yang bertebaran di antara mereka. Abu dari cinta yang telah mati, abu dari kepercayaan yang telah hancur.

"Kau tahu," bisik Bai Lian, mendekat ke arah Jian Feng. "Aku menghabiskan bertahun-tahun untuk membalas dendam. Setiap hari, setiap malam, aku hanya memikirkan satu hal: bagaimana caranya membuatmu merasakan sakit yang kurasakan."

Dia mencabut belati perak dari balik gaunnya. Cahaya bulan memantul di bilahnya yang tajam. Jian Feng memejamkan mata, pasrah pada takdirnya.

Namun, alih-alih menikam jantungnya, Bai Lian menggoreskan belati itu di pipi Jian Feng, tepat di atas bekas luka lama. Darah segar menetes, mewarnai salju di bawahnya.

"Ini bukan hukuman mati, Jian Feng," kata Bai Lian, suaranya dingin bagai es. "Ini adalah hukuman yang jauh lebih buruk. Kau akan hidup dengan bekas luka ini, setiap hari, setiap saat, kau akan mengingat pengkhianatanmu. Kau akan hidup dengan rasa bersalah, sampai akhir hayatmu."

Bai Lian berbalik, meninggalkan Jian Feng yang berlutut di tengah salju. Dia melangkah pergi, tanpa menoleh sedikit pun. Balas dendamnya telah usai. Bukan dengan darah, melainkan dengan kenangan.

Di balik punggungnya, Jian Feng berteriak, memanggil namanya. Tapi Bai Lian tak peduli. Dia hanya terus berjalan, menembus kegelapan malam, menuju masa depan yang tak pasti.

Langkahnya terhenti di puncak bukit. Ia menatap langit yang kelam, seolah mencari jawaban. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menusuk.

"Dia memang pantas hidup dalam penyesalan, tapi… akankah aku benar-benar bahagia setelah ini?"

Dan malam itu, langit yang menyaksikan pengkhianatan pertama, juga menyaksikan keheningan dendam yang jauh lebih mematikan.

You Might Also Like: Discover Fascinating World Of Codfish

Takhta yang Dihuni Bayangan Lama Malam menyelimuti Istana Chang'an bagai kain kafan, dingin dan sunyi. Dupa cendana membakar perlahan,...

Wajib Baca! Takhta Yang Dihuni Bayangan Lama Wajib Baca! Takhta Yang Dihuni Bayangan Lama

Takhta yang Dihuni Bayangan Lama

Malam menyelimuti Istana Chang'an bagai kain kafan, dingin dan sunyi. Dupa cendana membakar perlahan, asapnya menari-nari di antara pilar-pilar megah, menyembunyikan kebenaran yang berlumuran darah. Di atas Takhta Naga, duduklah Kaisar Li Wei, wajahnya bagai pahatan batu, tanpa ekspresi. Di matanya, hanya ada pantulan api dari obor-obor yang menjilat dinding istana, mencerminkan perang yang berkecamuk di dalam jiwanya.

Di balik tirai bambu, tersembunyi Permaisuri Xian, wanita tercantik di seluruh kekaisaran, namun hatinya dipenuhi duri. Cintanya pada Li Wei telah lama mati, terkubur di bawah gunung kebohongan dan pengkhianatan. Dulu, mereka saling mencintai di bawah rembulan purnama, bersumpah setia di atas abu pertempuran. Sekarang, janji itu hanyalah gema hampa di lorong-lorong waktu.

Salju turun tanpa ampun di halaman istana, membalut segalanya dalam warna putih bersih. Namun, di balik kemurnian itu, tersembunyi noda DARAH. Darah para pemberontak, darah para pengkhianat, dan yang paling menyakitkan, darah ayah Permaisuri Xian, yang dituduh berkhianat dan dieksekusi atas perintah Li Wei sendiri.

"Sudahkah kau menyiapkan teh?" tanya Li Wei, suaranya sedingin es.

"Sudah, Yang Mulia," jawab Xian, suaranya bergetar. Di dalam teh itu, tercampur setetes racun, hasil olahan bertahun-tahun. Bukan racun biasa, tapi racun yang melumpuhkan perlahan, membiarkan korbannya menyaksikan kehancuran dirinya sendiri.

Ingatan masa lalu melayang-layang di benak Xian: malam-malam penuh canda tawa di taman bunga persik, bisikan-bisikan mesra di bawah bintang-bintang, janji untuk selalu saling melindungi. Sekarang, hanya ada kebencian yang membara, dendam yang telah lama dipendam.

"Kau tahu, Xian," kata Li Wei, menyesap teh itu, "Aku selalu mengagumimu. Kekuatanmu, kecantikanmu… dan kesetiaanmu."

Xian tertawa sinis. "Kesetiaan? Kesetiaan itu sudah mati bersama ayahku, Yang Mulia. Anda membunuhnya, dan Anda membunuh sebagian dari diriku." Air mata mengalir di pipinya, membasahi dupa yang terbakar di dekatnya.

Li Wei terdiam. Efek racun mulai bekerja. Tubuhnya terasa berat, pandangannya kabur. Dia menatap Xian, matanya memohon.

"Aku… aku melakukannya untuk melindungimu," bisiknya lemah. "Ayahmu… dia berencana memberontak."

"Kebohongan!" Xian berteriak. "Ayahku tidak pernah berkhianat! Kau hanya ingin menyingkirkannya agar kau bisa merebut takhta!"

Li Wei berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia jatuh tersungkur di depan kaki Xian. Xian menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa ampun.

"Dendamku sudah terbayar lunas, Yang Mulia," bisik Xian, suaranya seperti desiran angin kematian. "Kau telah mengambil segalanya dariku, dan sekarang, aku mengambil nyawamu."

Li Wei menghembuskan napas terakhirnya, matanya menatap langit-langit istana, penuh penyesalan. Xian berdiri tegak, di atas mayat Kaisar, di atas takhta yang dihuni bayangan lama. Dia telah mendapatkan balas dendamnya, tapi hatinya tetap kosong, dingin, dan sunyi.

Balas dendam terwujud, setenang air danau yang menenggelamkan seluruh kota.

Keesokan harinya, seluruh kekaisaran gempar. Permaisuri Xian naik takhta, menjadi Kaisar Wanita pertama dalam sejarah. Dia memerintah dengan tangan besi, membawa kekaisaran menuju era baru… tetapi di balik senyum dinginnya, tersembunyi sebuah rahasia yang jauh lebih mengerikan, sebuah harga yang harus dibayar untuk setiap tetes darah yang tumpah.

Di dalam hatinya, tumbuh benih kejahatan yang suatu saat akan meledak, menghancurkan segalanya yang disentuhnya…

You Might Also Like: 69 Alasan Sunscreen Lokal Dengan

Air Mata yang Menjadi Akhir Garis Darah Aroma mei hua yang memabukkan menusuk hidungnya, namun tidak mampu mengusir bau anyir darah yang ...

Kisah Populer: Air Mata Yang Menjadi Akhir Garis Darah Kisah Populer: Air Mata Yang Menjadi Akhir Garis Darah

Air Mata yang Menjadi Akhir Garis Darah

Aroma mei hua yang memabukkan menusuk hidungnya, namun tidak mampu mengusir bau anyir darah yang mengental di istana yang dulunya adalah rumahnya. Putri Lian, sang angsa putih dari Liang, kini hanya serpihan kenangan. Dulu, ia adalah tawa renyah di tengah taman bunga persik, keanggunan yang membius para pujangga. Sekarang, ia adalah bayangan yang menari di lorong-lorong gelap, dipenuhi luka yang tak kasat mata.

Cinta dan kekuasaan. Dua racun yang merenggut segalanya. Kaisar Jian, yang dulunya berjanji bulan dan bintang, kini hanya menyisakan pengkhianatan. Keluarga Lian, yang mengabdi selama beberapa generasi, kini tercoreng oleh fitnah dan dibantai tanpa ampun. Lian, yang mencintai dengan sepenuh hati, kini hanya menyisakan kekosongan.

Namun, di kedalaman jurang keputusasaan, setitik bara menyala. Bara KEBENCIAN. Bukan kebencian membabi buta, melainkan kebencian yang dingin, kalkulatif, dan mematikan. Lian berjanji. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan setiap tetes air mata yang jatuh, dengan setiap denyut jantung yang berdetak. Ia akan membalas.

Bertahun-tahun berlalu. Lian, dengan identitas baru, muncul kembali sebagai Lady Xue. Kecantikannya masih memukau, namun ada lapisan es di balik tatapan matanya. Ia belajar taktik perang, ilmu racun, dan seni diplomasi. Ia membangun aliansi, mengumpulkan informasi, dan menyusun rencana yang rumit.

Balas dendamnya bukan dengan pedang yang berlumuran darah, melainkan dengan senyuman yang manis namun mematikan. Ia menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan, kesetiaan untuk mengkhianati, dan cinta untuk menghancurkan hati. Kaisar Jian, yang dibutakan oleh nafsunya, jatuh ke dalam jaring-jaring yang Lian rajut dengan sabar.

Setiap bidak yang jatuh, setiap rencana yang berhasil, membawa Lian semakin dekat pada tujuannya. Namun, setiap langkah juga menggores luka lama. Ia melihat dirinya di mata para korban, merasakan denyut kesakitan yang sama. Ia tahu, balas dendam tidak membawa kedamaian, hanya kehampaan yang lebih dalam.

Puncak dari segalanya adalah hari Kaisar Jian dijatuhkan dari tahtanya. Tidak dengan pemberontakan, melainkan dengan pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Lian berdiri di hadapannya, bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Ia menceritakan siapa dirinya, mengungkap kebenaran yang disembunyikan, dan menghancurkan sisa-sisa cinta yang pernah ada.

Kaisar Jian, yang hancur baik secara fisik maupun mental, hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Lian berbalik, meninggalkan istana yang penuh dengan kenangan pahit. Ia tidak merasakan kemenangan, hanya kelelahan yang mendalam. Ia telah mencapai tujuannya, namun dengan harga yang sangat mahal.

Di ambang senja, di tengah hamparan bunga mei hua yang kembali bermekaran, Lady Xue tersenyum tipis. Akhirnya, semua tetes air matanya telah menjadi permata yang menghiasi mahkotanya, dan... kini, ia akan memerintah dengan cara yang belum pernah mereka bayangkan.

You Might Also Like: 3 Manfaat Pelembab Skin Barrier Lokal

Aula Kemilau Emas Istana Kaisar Agung terhampar luas, memantulkan cahaya lilin yang berkedip-kedip. Setiap langkah di lantai marmer dingin ...

Dracin Seru: Kau Datang Dengan Sepeda Tua, Tapi Membuat Jantungku Berpacu Lebih Cepat Dracin Seru: Kau Datang Dengan Sepeda Tua, Tapi Membuat Jantungku Berpacu Lebih Cepat

Aula Kemilau Emas Istana Kaisar Agung terhampar luas, memantulkan cahaya lilin yang berkedip-kedip. Setiap langkah di lantai marmer dingin itu bergema, menggemakan intrik dan RAHASIA yang tersembunyi di balik dinding-dinding megah ini. Para pejabat istana, berjubah sutra mewah, saling bertukar pandang. Tatapan mereka tajam, menusuk, seolah mampu membaca setiap pikiran dan niat tersembunyi. Di balik tirai sutra yang berayun lembut, bisikan pengkhianatan berdesir seperti angin malam yang dingin.

Di tengah kemewahan yang mencekam ini, muncul sosok aneh: Mei Lan, seorang wanita desa yang sederhana. Rambutnya dikepang rapi, pakaiannya sederhana, dan senyumnya polos. Ia datang ke istana bukan dengan kereta kuda berhias emas, melainkan dengan... sepeda tua yang berderit-derit.

Kehadirannya membuat gempar. Bagaimana mungkin seorang wanita desa yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan bisa berada di sini? Kecurigaan merebak seperti wabah. Namun, Kaisar Zhao – seorang pria berwajah dingin dengan mata setajam elang – tampaknya terpikat.

Zhao adalah penguasa yang kejam dan cerdas. Ia tahu setiap sudut dan celah istananya, setiap rencana dan konspirasi yang dilancarkan untuk menjatuhkannya. Ia melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Mei Lan. Sesuatu yang murni, yang langka ditemukan di istana yang penuh tipu daya ini.

"Siapa kau?" tanya Kaisar Zhao, suaranya sedingin es.

"Saya... saya Mei Lan, Yang Mulia," jawabnya gugup. "Saya datang untuk... mengobati luka Anda."

Mei Lan ternyata adalah seorang tabib desa dengan pengetahuan tentang ramuan herbal yang tak tertandingi. Ia diundang ke istana untuk mengobati penyakit misterius yang diderita Kaisar.

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berkembang. Mei Lan, dengan kesederhanaan dan kejujurannya, mencairkan hati Zhao yang membeku. Zhao, dengan kekuasaan dan karismanya, membuat jantung Mei Lan berpacu lebih cepat. Cinta mereka tumbuh di tengah intrik dan kekuasaan, menjadi permainan takhta yang berbahaya. Setiap janji bisa menjadi pedang, setiap senyuman bisa menyembunyikan racun.

Zhao menawarinya kekuasaan, tahta, seluruh kerajaannya. Mei Lan menolaknya. Ia hanya menginginkan cintanya, cinta yang tulus, bukan cinta yang ternoda oleh ambisi dan politik.

Namun, cinta mereka tidak luput dari perhatian Ratu Lian, permaisuri yang licik dan haus kekuasaan. Lian telah merencanakan segalanya untuk memastikan anaknya naik tahta. Kehadiran Mei Lan adalah ancaman yang harus dihilangkan.

Ratu Lian melancarkan serangkaian konspirasi untuk menjatuhkan Mei Lan. Ia menyebarkan fitnah, menjebak Mei Lan dalam pengkhianatan, dan bahkan mencoba meracuninya. Namun, Mei Lan bukan wanita yang lemah. Ia memiliki kecerdasan dan keteguhan hati yang selama ini tersembunyi.

Pada malam bulan purnama, Ratu Lian melancarkan serangan terakhirnya. Ia memerintahkan pengawal istana untuk menangkap Mei Lan dan menghukumnya di depan umum. Namun, Mei Lan telah menduganya. Ia telah menyiapkan rencana balas dendam yang elegan, dingin, tapi MEMATIKAN.

Saat para pengawal istana menyeretnya ke tengah halaman istana, Mei Lan tersenyum. Senyum yang menakutkan. Ia mengungkapkan bukti tak terbantahkan tentang pengkhianatan Ratu Lian, tentang rencananya untuk membunuh Kaisar dan merebut tahta.

Aula Kemilau Emas menjadi hening. Kaisar Zhao terkejut. Ia tidak percaya wanita yang dicintainya telah mengkhianatinya. Namun, bukti yang disajikan Mei Lan terlalu kuat untuk diabaikan.

Dengan suara bergetar, Kaisar Zhao memerintahkan penangkapan Ratu Lian. Lian menjerit, meronta-ronta, namun percuma. Kekuasaannya telah runtuh.

Mei Lan mendekati Kaisar Zhao. Matanya dingin, tanpa setitik pun cinta. "Kau telah dibutakan oleh kekuasaan, Yang Mulia. Kau telah mengkhianati cintaku, dan sekarang... kau akan merasakan akibatnya."

Mei Lan mengangkat tangannya, memperlihatkan ramuan beracun yang mematikan. Ia telah mencampurkannya ke dalam teh yang biasa diminum Kaisar.

Kaisar Zhao terhuyung. Ia menatap Mei Lan dengan tatapan tidak percaya. Ia baru menyadari betapa dalamnya cinta Mei Lan padanya, dan betapa besar rasa sakit yang telah ia timbulkan.

Mei Lan menjatuhkan racun itu dan berbalik. Ia meninggalkan Aula Kemilau Emas, meninggalkan Kaisar Zhao terbaring di lantai, dan meninggalkan istana yang penuh intrik dan rahasia. Ia menaiki sepeda tuanya dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

Dan di Aula Kemilau Emas yang sunyi senyap, bisikan mulai beredar... Kaisar Zhao tidak mati.

You Might Also Like: 10 Manfaat Sunscreen Lokal Dengan

Judul: Aku Mencintaimu Seperti Rahasia, Indah Tapi Menyesakkan Angin berbisik di antara pepohonan sakura yang berguguran, menari seperti k...

Harus Baca! Aku Mencintaimu Seperti Rahasia, Indah Tapi Menyesakkan Harus Baca! Aku Mencintaimu Seperti Rahasia, Indah Tapi Menyesakkan

Judul: Aku Mencintaimu Seperti Rahasia, Indah Tapi Menyesakkan

Angin berbisik di antara pepohonan sakura yang berguguran, menari seperti kenangan yang hampir terlupakan. Di taman tersembunyi, di mana waktu seolah berhenti berputar, aku melihatmu. Sosokmu bagai lukisan kabut pagi, samar namun begitu memikat. Apakah ini nyata? Atau hanya ilusi yang diciptakan kerinduanku?

Matamu, danau zamrud di tengah hutan yang gelap, menyimpan rahasia yang tak terucapkan. Setiap kali kita bertemu, dunia di sekelilingku menghilang. Hanya ada kita, dalam keheningan yang penuh arti. Sentuhan jemarimu, sehalus sutra yang dihembus angin, membakar hatiku dengan api yang tak mungkin padam.

Aku mencintaimu seperti rahasia. Indah, bagai mimpi yang tak ingin kubangunkan. Menyesakkan, karena aku tahu, kau tak mungkin kumiliki. Cintaku padamu bagai rembulan yang jatuh ke laut, tenggelam dalam kedalaman tanpa batas.

Kita bertemu di persimpangan waktu, di dimensi yang terlupakan. Apakah kita pernah bersama di kehidupan sebelumnya? Ataukah kita hanya dua jiwa yang tersesat, mencari pelipur lara dalam kesunyian?

Setiap senyummu, adalah matahari yang menerangi hari-hariku. Setiap tatapanmu, adalah bintang yang membimbingku dalam kegelapan. Namun, semua itu hanya ilusi. Sebuah fatamorgana yang diciptakan oleh hatiku yang merindu.

Suatu hari, kau menghilang. Tanpa jejak, tanpa penjelasan. Aku mencarimu di setiap sudut kota, di setiap mimpi yang kubangun. Namun, kau tetap tak kutemukan. Kau bagai embun pagi yang menguap saat matahari terbit.

Kemudian, aku menemukan suratmu. Tersembunyi di balik lukisan bunga teratai yang kau berikan padaku. Tulisannya berbunyi: "Aku hanyalah bayangan dari masa lalu, yang tak mungkin menjadi kenyataan. Cintaku padamu, adalah kutukan yang tak bisa dihindari."

Misteri terpecahkan. Kau adalah hantu dari masa lalu. Seorang putri yang meninggal karena cinta yang terlarang. Cintaku padamu, adalah reinkarnasi dari kisah tragis yang tak pernah selesai. Keindahan ini, justru membuat luka makin dalam.

Dan di sana, di antara bisikan angin dan guguran bunga sakura, aku mendengar suara HALUS... "Kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain..."

You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bimbingan Bisnis