Istana megah ini berdiri angkuh, menampung gelak tawa yang terasa bagai desiran angin di telingaku. Di sinilah, kau bertahta, berbalut sutra dan permata, disembah sebagai permaisuri yang anggun. Sementara aku… aku terdampar di tepiannya, di bayangan dosa yang membayangi setiap langkahmu.
Dulu, aku ingat betul, senyummu adalah mentari bagiku. Senyum yang kini kutahu adalah topeng. Pelukanmu, dulu terasa hangat dan melindungi, kini hanyalah belitan beracun yang mencekik jiwaku perlahan. Janji-janjimu, diukir indah di langit malam, kini menjelma menjadi belati tajam, menusuk jantungku tanpa ampun.
Aku ingat malam itu. Di bawah rembulan yang pucat, kau berbisik janji abadi. Kau genggam tanganku, berjanji setia hingga akhir hayat. Bodohnya aku! Tertipu pesonamu, aku serahkan seluruh hatiku. Sekarang, kau berdiri di altar dengan orang lain, tersenyum bahagia di pelukannya. Hatiku hancur berkeping-keping, namun aku tidak menangis. Tidak di hadapan mereka.
Aku belajar menjadi tenang. Aku menyembunyikan luka ini di balik eleganisiku. Gaunku menjuntai anggun, riasanku sempurna, wajahku tanpa cela. Aku adalah bayanganmu yang selalu ada, namun tak pernah kau lihat. Aku adalah hantu masa lalu yang akan terus menghantuimu.
Waktu terus bergulir. Kau menikmati hidupmu di istana, dikelilingi kemewahan dan pujian. Kau tidak tahu bahwa setiap langkahmu, setiap senyummu, setiap kebahagiaanmu, diawasi. Aku merajut benang-benang balas dendam bukan dengan darah, bukan dengan kekerasan. Balas dendamku adalah penyesalan abadi.
Aku tidak membunuhmu. Aku tidak merebut tahtamu. Aku hanya… membukakan matamu. Memperlihatkan kepadamu siapa dirimu sebenarnya. Aku mempersembahkan padamu cermin yang memantulkan wajahmu yang sebenarnya: seorang wanita yang haus kekuasaan, yang rela mengkhianati cinta demi ambisi.
Kulihat matamu membulat, napasmu tercekat. Kau terpaku, membisu. Penyesalan menggerogoti hatimu. Itulah yang kubutuhkan. Bukan darah, bukan kematian, tapi penyesalan. Penyesalan yang akan kau bawa hingga akhir hayatmu.
Aku berbalik, meninggalkanmu di istanamu yang megah, di tengah keramaian yang sunyi. Aku berjalan menjauh, menuju bayang-bayang di mana aku dilahirkan. Aku tidak tersenyum, aku juga tidak menangis. Hatiku hampa, namun aku puas.
Di kejauhan, kulihat kau terduduk di singgasanamu, menatap kosong ke arahku. Aku tahu, meski kau hidup di istana, kau kini terperangkap dalam penjara bernama penyesalan.
Langkahku terhenti. Aku berbisik pada diriku sendiri, "Cinta dan dendam… LAHIR DARI TEMPAT YANG SAMA."
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis
0 Comments: