Takhta yang Dihuni Bayangan Lama
Malam menyelimuti Istana Chang'an bagai kain kafan, dingin dan sunyi. Dupa cendana membakar perlahan, asapnya menari-nari di antara pilar-pilar megah, menyembunyikan kebenaran yang berlumuran darah. Di atas Takhta Naga, duduklah Kaisar Li Wei, wajahnya bagai pahatan batu, tanpa ekspresi. Di matanya, hanya ada pantulan api dari obor-obor yang menjilat dinding istana, mencerminkan perang yang berkecamuk di dalam jiwanya.
Di balik tirai bambu, tersembunyi Permaisuri Xian, wanita tercantik di seluruh kekaisaran, namun hatinya dipenuhi duri. Cintanya pada Li Wei telah lama mati, terkubur di bawah gunung kebohongan dan pengkhianatan. Dulu, mereka saling mencintai di bawah rembulan purnama, bersumpah setia di atas abu pertempuran. Sekarang, janji itu hanyalah gema hampa di lorong-lorong waktu.
Salju turun tanpa ampun di halaman istana, membalut segalanya dalam warna putih bersih. Namun, di balik kemurnian itu, tersembunyi noda DARAH. Darah para pemberontak, darah para pengkhianat, dan yang paling menyakitkan, darah ayah Permaisuri Xian, yang dituduh berkhianat dan dieksekusi atas perintah Li Wei sendiri.
"Sudahkah kau menyiapkan teh?" tanya Li Wei, suaranya sedingin es.
"Sudah, Yang Mulia," jawab Xian, suaranya bergetar. Di dalam teh itu, tercampur setetes racun, hasil olahan bertahun-tahun. Bukan racun biasa, tapi racun yang melumpuhkan perlahan, membiarkan korbannya menyaksikan kehancuran dirinya sendiri.
Ingatan masa lalu melayang-layang di benak Xian: malam-malam penuh canda tawa di taman bunga persik, bisikan-bisikan mesra di bawah bintang-bintang, janji untuk selalu saling melindungi. Sekarang, hanya ada kebencian yang membara, dendam yang telah lama dipendam.
"Kau tahu, Xian," kata Li Wei, menyesap teh itu, "Aku selalu mengagumimu. Kekuatanmu, kecantikanmu… dan kesetiaanmu."
Xian tertawa sinis. "Kesetiaan? Kesetiaan itu sudah mati bersama ayahku, Yang Mulia. Anda membunuhnya, dan Anda membunuh sebagian dari diriku." Air mata mengalir di pipinya, membasahi dupa yang terbakar di dekatnya.
Li Wei terdiam. Efek racun mulai bekerja. Tubuhnya terasa berat, pandangannya kabur. Dia menatap Xian, matanya memohon.
"Aku… aku melakukannya untuk melindungimu," bisiknya lemah. "Ayahmu… dia berencana memberontak."
"Kebohongan!" Xian berteriak. "Ayahku tidak pernah berkhianat! Kau hanya ingin menyingkirkannya agar kau bisa merebut takhta!"
Li Wei berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia jatuh tersungkur di depan kaki Xian. Xian menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa ampun.
"Dendamku sudah terbayar lunas, Yang Mulia," bisik Xian, suaranya seperti desiran angin kematian. "Kau telah mengambil segalanya dariku, dan sekarang, aku mengambil nyawamu."
Li Wei menghembuskan napas terakhirnya, matanya menatap langit-langit istana, penuh penyesalan. Xian berdiri tegak, di atas mayat Kaisar, di atas takhta yang dihuni bayangan lama. Dia telah mendapatkan balas dendamnya, tapi hatinya tetap kosong, dingin, dan sunyi.
Balas dendam terwujud, setenang air danau yang menenggelamkan seluruh kota.
Keesokan harinya, seluruh kekaisaran gempar. Permaisuri Xian naik takhta, menjadi Kaisar Wanita pertama dalam sejarah. Dia memerintah dengan tangan besi, membawa kekaisaran menuju era baru… tetapi di balik senyum dinginnya, tersembunyi sebuah rahasia yang jauh lebih mengerikan, sebuah harga yang harus dibayar untuk setiap tetes darah yang tumpah.
Di dalam hatinya, tumbuh benih kejahatan yang suatu saat akan meledak, menghancurkan segalanya yang disentuhnya…
You Might Also Like: 69 Alasan Sunscreen Lokal Dengan
0 Comments: