Di bawah cahaya sore yang merambat di layar retak ponselku, aku menatap fotomu. Pixel-pixel itu bergetar, sama seperti hatiku yang mendadak berdisko dengan irama melankolis. Namamu, tertera di atasnya, berkedip-kedip seperti lampu neon di lorong gelap sebuah karaoke usang. Aku tahu, dunia memang tidak berpihak pada kita.
Dunia kita, lebih tepatnya. Dunia yang kita tinggali terasa seperti dua sisi koin yang berbeda, tapi dilempar ke sumur yang sama. Kamu, katanya, hidup di masa lalu. Masa lalu yang bagiku hanyalah debu digital dalam arsip internet. Sementara aku, tersesat di masa depan yang dijanjikan, tapi terasa hampa seperti baterai ponsel di tengah hutan belantara.
Kita bertemu di antara sinyal hilang dan notifikasi yang tak pernah terkirim. Percakapan kita adalah puisi yang lahir dari tengah malam, di mana rindu menjadi bahasa utama, dan emoji hanyalah peluk virtual yang tak pernah sampai. Aku menunggu balasanmu, menatap status 'sedang mengetik' yang tak kunjung usai, seolah-olah di balik layar sana, kamu sedang merangkai bintang-bintang untuk dijadikan kalimat cinta.
Langit menolak pagi. Mentari enggan menyapa. Bintang-bintang menertawakan kita dari kejauhan, seolah tahu rahasia pahit yang belum kutemukan. Setiap kali aku mengirim pesan, aku membayangkan kamu menerima pesan itu melalui mesin tik kuno, atau mungkin, melalui burung merpati pos yang tersesat di labirin waktu.
Aku pernah mencoba mencari jejakmu di kota. Di kafe-kafe tua yang dipenuhi aroma kopi pahit dan nostalgia, aku mencari sosokmu yang katanya gemar membaca puisi di sudut ruangan. Di taman kota yang dipenuhi bunga sakura palsu, aku membayangkan kamu duduk di bangku kayu, merenungi arti kehidupan di tengah hiruk pikuk dunia modern. Tapi yang kutemukan hanyalah ECHO, jejakmu yang pudar, seperti lukisan di atas kanvas yang terlalu tua.
Lalu, suatu malam, saat aku menatap langit penuh bintang palsu yang dipancarkan oleh satelit buatan, aku menerima pesan. Bukan darimu. Tapi dari seorang pria tua, yang fotonya terasa familiar, meski aku tak pernah melihatnya sebelumnya.
"Cari ALEXA, di koordinat 34.0522° N, 118.2437° W," tulisnya. "Dia memegang kunci untuk membuka gerbang antara waktu. Dia akan menjel...". Pesan itu terputus.
Koordinat itu... Los Angeles. Tempat kamu sering ceritakan dalam mimpiku. Nama "Alexa"... itu nama aneh. Tiba-tiba, semuanya menjadi jelas. Cinta kita bukanlah takdir. Bukan pula kebetulan. Itu hanyalah GEMA dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kehidupan Alexa, nenek buyutku. Kehidupanmu. Dan kehidupan pria tua itu, diriku sendiri, yang terjebak dalam paradoks waktu!
Semuanya terhubung dalam jaring-jaring tak terlihat, di mana cinta, kehilangan, dan penyesalan berputar tanpa henti. Dan aku, hanyalah boneka yang menari mengikuti alunan melodi patah hati yang abadi.
Dan sebelum dunia padam, aku ingin mengirimkan satu pesan terakhir...
You Might Also Like: Jual Skincare Lokal Berkualitas Di
0 Comments: