Oke, inilah kisah pendek bergaya *dracin* dengan penekanan yang Anda minta: **Cinta yang Hidup di Dalam Bayangan** Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Di balik jendela apartemen mewah di Distrik Pudong, Li Wei berdiri, siluet anggunnya terpantul pada kaca. Gaun sutra berwarna **zamrud** membalut tubuhnya, menyembunyikan retakan yang tak terlihat di dalam hatinya. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sempurna, senyum yang menipu. Dulu, senyum itu ditujukan untuk Zhang Hao, *cintanya*, *mataharinya*. Sekarang, senyum itu hanya topeng. Zhang Hao. Nama itu bagai belati yang berputar di dalam dadanya. Dulu, pelukannya terasa hangat, *sekarang*… *beracun*. Janji-janjinya, yang diucapkan dengan nada selembut sutra, kini hanyalah pecahan kaca yang melukai setiap kali ia mengingatnya. "Aku akan selalu mencintaimu, Li Wei," bisik Zhang Hao suatu malam, saat mereka berdua berdiri di Jembatan Waibaidu, lampu-lampu kota berkelap-kelip bagai permata di bawah kaki mereka. Li Wei memejamkan mata, air mata menggenang di pelupuknya. Sebuah _kebohongan_ yang diucapkan dengan begitu indah, hingga ia hampir mempercayainya. Pengkhianatan Zhang Hao terasa seperti serangan yang terencana, *terlalu rapi*, *terlalu sempurna*. Wanita itu, Mei Lan, sahabatnya sendiri. Mereka berdua, berpegangan tangan, tertawa, *berkhianat* di belakang punggungnya. Namun Li Wei adalah wanita yang kuat. Ia tidak menangis di depan umum. Ia tidak berteriak atau mengamuk. Ia hanya diam, merencanakan. Bertahun-tahun kemudian, Zhang Hao mencapai puncak karirnya. Perusahaan teknologi yang didirikannya bernilai miliaran dolar. Ia hidup dalam kemewahan yang tak terbayangkan. Mei Lan selalu berada di sisinya, senyumnya sama palsunya dengan senyum Li Wei dulu. Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Investasi gagal, skandal korupsi terungkap, rekan bisnis mulai menjauh. Zhang Hao melihat kekayaannya menyusut, reputasinya hancur. Ia kehilangan segalanya, perlahan tapi pasti. Pada akhirnya, Zhang Hao berdiri sendirian, di apartemen kosong yang pernah menjadi simbol kejayaannya. Mei Lan meninggalkannya, mencari pria lain yang lebih menjanjikan. Li Wei berdiri di hadapannya, sekali lagi mengenakan gaun sutra berwarna zamrud. Senyumnya tidak menipu kali ini. Senyum itu adalah *kemenangan*, dingin dan mematikan. "Apakah kau ingat Jembatan Waibaidu, Zhang Hao?" tanya Li Wei, suaranya selembut bisikan. "Dulu, kau berjanji akan selalu mencintaiku." Zhang Hao menatapnya, mata merah dan berkaca-kaca. "Li Wei... maafkan aku." Li Wei menggeleng. "Maaf tidak cukup, Zhang Hao. Kau tidak menghancurkan cintaku. Kau menghancurkan dirimu sendiri." Li Wei berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Zhang Hao dalam kehancuran dan penyesalan abadi. Ia tidak membunuhnya, tidak menyakitinya secara fisik. Namun, rasa sakit yang ia tinggalkan jauh lebih mendalam, jauh lebih abadi. Di dalam limusin yang melaju meninggalkan apartemen Zhang Hao, Li Wei menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya. _Akhirnya_, _selesai_. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang *sama*... dan kadang, keduanya **menghancurkan**.
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Fleksibel Kerja Dari

0 Comments: