## Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam Angin malam Kota Terlarang menyisir sutra merah yang membalut tub...

Kisah Seru: Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam Kisah Seru: Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam

Kisah Seru: Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam

Kisah Seru: Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam

## Kau Bilang Ini Cinta Terlarang, Tapi Kita Tetap Menulisnya Setiap Malam Angin malam Kota Terlarang menyisir sutra merah yang membalut tubuh Lian, mengingatkannya pada darah yang pernah tumpah di tempat ini. Di sisinya, berdiri Bo, bayangan gelap yang selalu mengikutinya sejak mereka bocah. Mereka tumbuh bersama di bawah langit yang sama, berbagi rahasia di balik tembok Istana yang menjulang. Sahabat? Saudara? Atau sekadar dua bidak dalam permainan takdir yang kejam? "Bulan malam ini indah, bukan, Lian?" bisik Bo, suaranya bagai belati yang dilapisi madu. Lian mendongak. "Indah, Bo. Tapi keindahan bisa menipu. Seperti senyummu." Senyum Bo menyeringai. "Kau tahu, Lian, *RAHASIA* adalah beban yang berat. Terutama rahasia yang kita bagi." Mereka terikat oleh sumpah darah, perjanjian diam di bawah pohon plum yang kini dipenuhi salju. Mereka berjanji akan melindungi satu sama lain, apapun yang terjadi. Tapi di balik sumpah itu, tersimpan kebohongan yang menggerogoti hati mereka. "Kau mengingat malam itu, Lian? Malam ketika Ayahanda jatuh?" Bo bertanya, matanya berkilat dingin. "Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Malam di mana segalanya berubah..." Jawab Lian dengan suara bergetar. Malam itu, Kaisar ditemukan tewas di taman istana, pedang menancap di dadanya. Lian dan Bo, dua pangeran yang masih muda, menjadi saksi bisu. Lian bersumpah untuk membalas dendam. Bo bersumpah untuk melindunginya. Tapi kebenaran tersembunyi jauh di balik bayangan. Bertahun-tahun berlalu. Lian naik tahta, dipandu oleh nasihat setia Bo. Ia memerintah dengan tangan besi, memburu para pengkhianat yang membunuh Ayahnya. Namun, setiap malam, di balik pintu kamarnya, ia bertemu Bo. Mereka menulis cerita yang terlarang, melampaui batas persaudaraan. *SENTUHAN* mereka bagai api yang membakar, dosa yang manis. "Ini gila, Bo. Kita tidak bisa terus seperti ini," bisik Lian suatu malam, air mata mengalir di pipinya. Bo memeluknya erat. "Gila? Mungkin. Tapi inilah *HIDUP* kita, Lian. Terikat oleh takdir dan nafsu." Misteri kematian Kaisar perlahan terkuak. Bisikan-bisikan mulai beredar di istana. Ada yang mengatakan bahwa Bo adalah seorang mata-mata, bekerja untuk faksi lain. Ada yang mengatakan bahwa Lian sendiri terlibat, ambisinya terlalu besar untuk menunggu giliran. Lian tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Satu-satunya orang yang selalu ia andalkan, Bo, kini menjadi sumber keraguannya yang terbesar. Ia mulai menyelidiki Bo secara diam-diam. Semakin ia menggali, semakin gelap kebenaran yang ia temukan. Akhirnya, malam itu tiba. Lian menghadapi Bo di bawah pohon plum yang sama, tempat mereka dulu bersumpah. "Katakan padaku, Bo. Kau membunuh Ayahanda, bukan?" tanya Lian, suaranya datar. Bo tersenyum sedih. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Lian. Demi *KITA*." Pengkhianatan. Kata itu bergema di benak Lian. Bo, orang yang paling ia cintai, adalah orang yang paling mengkhianatinya. Bo membunuh Kaisar, karena Kaisar tidak menyetujui hubungan mereka. Ia ingin Lian berkuasa, sehingga mereka bisa bersama tanpa takut akan penghakiman. "Kau bilang ini cinta, Bo? Ini pembantaian," desis Lian. Dengan satu gerakan cepat, Lian mencabut pedangnya dan menusuk jantung Bo. Bo tersenyum, darah mengalir dari mulutnya. "Aku mencintaimu, Lian. Sampai akhir," bisiknya. Lian membiarkan Bo jatuh ke tanah. Ia berdiri di sana, di bawah pohon plum yang bersalju, dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Kebenaran telah terungkap, balas dendam telah terbayar. Tapi kemenangan terasa pahit. "Malam ini... aku mengerti apa artinya kehilangan," gumam Lian, sebelum kegelapan menelannya. *DAN DI SAAT TERAKHIRKU, AKU MENYADARI BAHWA KITA BERDUA ADALAH KORBAN DARI CINTA YANG TERLARANG INI...*
You Might Also Like: Arti Mimpi Dikejar Ular Sanca Inilah

0 Comments: