Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang Anda minta: **Aku Mencintaimu di Antara Batas, dan Batas Itu Kian Menipis** Di jantung kot...

Seru Sih Ini! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis Seru Sih Ini! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis

Seru Sih Ini! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis

Seru Sih Ini! Aku Mencintaimu Di Antara Batas, Dan Batas Itu Kian Menipis

Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang Anda minta: **Aku Mencintaimu di Antara Batas, dan Batas Itu Kian Menipis** Di jantung kota Shanghai yang gemerlap, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, tersembunyi sebuah kisah cinta yang pahit. Aku, Lin Mei, berdiri di balkon apartemenku, gaun sutra merah marun memeluk tubuhku bagai air yang tenang. Di bawah sana, lampu-lampu kota menari-nari, serupa bintang jatuh yang tak pernah sampai ke bumi. Dulu, aku mencintainya. Kai. Nama itu bagai mantra yang selalu kurapalkan dalam setiap hembusan napas. *Cintaku untuknya tak terbatas*, seperti samudra yang luas dan dalam. Namun, batas itu ada. Batas status sosial, ambisi keluarga, dan… wanita lain. **Senyumnya**… ya, senyumnya adalah topeng yang sempurna. Di balik lesung pipi yang menawan, tersembunyi hati yang licik. **Pelukannya**… dulu terasa hangat dan melindungi, kini kurasakan bagai racun yang perlahan membunuh. **Janji-janjinya**… ah, janji-janji itu. Dulu kurajut menjadi mimpi indah, kini menjelma belati tajam yang menghujam jantungku. Aku tahu. Aku tahu dia mendua. Bisik-bisik kejam itu sampai juga ke telingaku. Foto-foto mesra yang sengaja dikirimkan kepadaku. Tapi aku memilih diam. Aku memilih untuk tetap tenang, menyembunyikan luka di balik senyum elegan. Bukankah seorang Lin Mei tidak boleh terlihat lemah? Aku ingat malam itu, saat dia berlutut di hadapanku, air mata (palsu) membasahi pipinya. “Mei, maafkan aku… aku *khilaf*.” Khilaf? Kata yang sungguh merendahkan cintaku. Aku tersenyum lembut, menyeka air matanya dengan tisu mahal. “Tidak apa-apa, Kai. Aku mengerti.” Aku memeluknya, erat. Pelukan terakhir. Beberapa bulan kemudian, Kai menikahi wanita itu. Putri seorang konglomerat besar, rekan bisnis keluarganya. Pernikahan yang diatur. Pernikahan yang akan mengamankan masa depannya. Aku tidak datang ke pernikahan itu. Aku tidak menangis. Aku hanya tersenyum. Balas dendamku tidak berdarah. Balas dendamku adalah penyesalan abadi yang akan menghantuinya seumur hidup. Aku memastikan, dengan kecerdasan dan pengaruhku, bisnis keluarganya mengalami kemunduran. Aku membisikkan informasi penting kepada pesaing mereka. Aku membuat kerajaannya runtuh, perlahan tapi pasti. Kai kehilangan segalanya. Kekayaan, reputasi, bahkan harga dirinya. Dia menghubungiku, memohon ampun. Aku mengangkat teleponnya, mendengar suaranya yang putus asa. Lalu, aku menutup telepon. Tanpa sepatah kata pun. Aku berdiri di balkon, memandang kota Shanghai yang kini terasa dingin. Aku telah membalas dendam. Tapi mengapa hatiku masih terasa kosong? Mengapa rasa pahit ini masih mengendap di lidahku? Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: 13 Nature Loving Dog Breeds Who Thrive

0 Comments: