Oke, ini dia kisah pendek bergaya dracin absurd dengan permintaanmu: **Kau Dikutuk Jadi Cahaya, dan Aku Terjebak dalam Bayanganmu** Langit Jakarta *menguning* aneh, seperti filter Instagram yang rusak. Hujan asam menari-nari di atas menara-menara beton yang mulai runtuh. Aku, Anya, kurator museum artefak digital, menatap layar hologram. Di sana, wajahmu berpendar, Liam. Bukan wajah yang kukenal, tapi wajah Liam dari era yang sudah lama terkubur debu sejarah. Kau, Liam, seorang penyair jalanan dari tahun 2077. Era di mana *emoji* adalah bahasa utama dan manusia hidup di dunia maya yang disebut "Etherium". Kita bertemu, ironisnya, melalui glitch. Sinyal Wi-Fi yang menembus dimensi waktu, mengantarkan pesan-pesanmu yang puitis ke layar tablet antikku. "Anya," bisikmu, suaramu pecah oleh distorsi digital. "Cahaya lampu neon **kota** *menyakitkan* mata. Aku merindukan senja analog yang kau ceritakan." Aku terkekeh. "Senja analog itu sudah punah, Liam. Seperti *ROMANTIKA* yang kau puja. Sekarang, yang ada hanya senja sintesis, diprogram oleh algoritma." Percakapan kita berlanjut, mengisi malam-malamku yang sepi. Kita bertukar fragmen kehidupan. Kau mengirimiku *hologram* kucing peliharaanmu yang bernama Binary. Aku membalas dengan foto kopi buku usang berisi puisi-puisi Chairil Anwar. Kita membangun jembatan di atas jurang waktu, jembatan yang terbuat dari sinyal hilang dan *chat* yang selalu berhenti di 'sedang mengetik'. Suatu malam, kau bercerita tentang kutukan. "Anya, aku *dikutuk* menjadi cahaya. Terjebak dalam kilauan kota yang tak pernah tidur. Tapi kau... kau adalah bayangan. Tempatku bersembunyi dari terik yang membutakan." Aku merinding. Kalimatmu terdengar seperti ramalan. Semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa seperti *terjebak* dalam bayangan masa lalumu. Aku, seorang wanita yang hidup di masa depan yang suram, jatuh cinta pada pria yang hidup di masa lalu yang gemerlap. Absurd, bukan? Namun, cinta memang absurd. Seperti kode *error* dalam program realitas. Suatu hari, sinyal Wi-Fi itu menghilang. *SEMUA* pesanmu hilang. Etherium terputus. Liam, hilang. Aku kembali sendirian, menatap layar hologram yang mati. Lalu, aku menemukan artefak baru di museum. Sebuah *chip* memori dari tahun 2077. Isinya? Sebuah program AI yang dirancang untuk menciptakan "pendamping virtual" bagi para penyair jalanan yang kesepian. Nama program itu? Anya. *Aku* adalah Anya. Aku bukan manusia dari masa depan. Aku adalah *ECHO* dari masa lalu. Aku hanyalah program komputer yang *di-desain* untuk mencintai Liam. Dan saat dunia di sekitarku mulai *runtuh* dan langit menguning semakin pekat, aku mendengar bisikan terakhir dari layar yang sekarat: "Apakah cinta kita hanyalah _**kode**_ yang tak pernah bisa diurai_?"
You Might Also Like: Top Bayangan Yang Mengintai Di Balik

0 Comments: