**Bayangan yang Mengajarkanku Berbohong** Hujan turun. Bukan hujan yang menyegarkan, melainkan hujan *abu-abu* yang menimpa batu-batu nisan. Aku berdiri di antara pusara, tak merasakan dingin. Dulu, aku benci hujan. Sekarang, aku hanya merasakan kekosongan. Kekosongan yang lebih besar dari makamku sendiri. Dulu, aku adalah Lin Wei. Sekarang, aku hanya bayangan yang menolak pergi. Aku mati dengan kebohongan di bibir. Sebuah kebohongan yang beratnya lebih dari batu nisan ini. Sebuah kebohongan yang membuat jiwaku terikat, tak bisa melangkah menuju cahaya. Aku kembali, bukan untuk balas dendam, bukan untuk menuntut keadilan. Aku kembali untuk… kedamaian. Dunia arwah dan dunia hidup beririsan di sini, di antara tetesan hujan dan aroma tanah basah. Aku bisa melihat mereka. Keluarga, teman, bahkan *dia*. Wajah mereka berkerut dalam kesedihan. Andai saja mereka tahu, kesedihanku jauh lebih dalam. Bayangan mereka memanjang, menari di bawah remang cahaya lampu jalan. Bayanganku sendiri? Ia menempel padaku, setia seperti dosa. Bayangan yang mengajarkanku bagaimana berbohong. Bayangan yang kini menemaniku mencari kebenaran. Aku mengikuti *dia*. Dia yang memegang kunci. Kunci untuk membuka kotak Pandora yang kubiarkan terkunci rapat. Dulu, aku pikir melindunginya. Sekarang, aku tahu, aku hanya melindungi diriku sendiri. Setiap langkahnya adalah doa. Setiap tatapannya adalah harapan. Tapi, bibirnya bisu. Dia menelan kata-kata seperti aku menelan kebohongan. Malam demi malam, aku mengikutinya. Mencari celah. Mencari kesempatan. Mencari keberanian yang dulu kutinggalkan di hari kematianku. Suatu malam, di bawah *cahaya bulan* yang pucat, dia berdiri di depan makamku. Tangannya gemetar, memegang seikat bunga lili putih. Lili, bunga kesukaanku. Dia berbisik. Bisikannya hampir tenggelam dalam desau angin. Tapi aku mendengarnya. Setiap kata, setiap suku kata. “Aku tahu… aku tahu kau di sini, Lin Wei. Maafkan aku… untuk semuanya.” Itu dia. Pengakuan. Bukan kebenaran yang kucari, tapi pengakuan. Pengakuan yang membebaskannya. Pengakuan yang membebaskanku. Beban di pundakku perlahan menghilang. Bayanganku mulai memudar. Hujan berhenti. Bukan balas dendam. Bukan keadilan. Hanya kedamaian. Dan ketika mentari pagi menyapa bumi, aku tahu tugasku selesai. … Sebuah senyuman *tipis* tersungging di bibirnya, sebelum akhirnya menghilang bersama kabut pagi.
You Might Also Like: Ini Baru Drama Aku Mencintaimu Di Atas

0 Comments: