Oke, inilah cerita pendek bergaya dracin yang kamu minta, dengan sentuhan lirih, penyesalan, dan misteri: **Kau Menatapku dari Sisi Kegelapa...

Drama Populer: Kau Menatapku Dari Sisi Kegelapan, Dan Aku Melangkah Ke Sana Tanpamu Drama Populer: Kau Menatapku Dari Sisi Kegelapan, Dan Aku Melangkah Ke Sana Tanpamu

Drama Populer: Kau Menatapku Dari Sisi Kegelapan, Dan Aku Melangkah Ke Sana Tanpamu

Drama Populer: Kau Menatapku Dari Sisi Kegelapan, Dan Aku Melangkah Ke Sana Tanpamu

Oke, inilah cerita pendek bergaya dracin yang kamu minta, dengan sentuhan lirih, penyesalan, dan misteri: **Kau Menatapku dari Sisi Kegelapan, dan Aku Melangkah ke Sana Tanpamu** Alunan *guqin* membelah malam. Nada-nada itu merambat di dinding bambu *Paviliun Anggrek*, menelusup ke dalam hatiku yang remuk redam. Di luar, hujan gerimis menyapa bunga plum yang gugur. Persis seperti hatiku. Lima tahun. Lima tahun aku menyerahkan segalanya padamu, *Gege*. Kekayaan, kehormatan keluarga, bahkan... cintaku. Kau tahu, bukan? Kau tahu betapa bodohnya aku, menyerahkan mahkota *selir kesayangan* hanya demi melihat senyummu yang menawan. Namun, matamu redup ketika menatapku dari balik singgasana. Singgasana yang seharusnya menjadi milik kita berdua. Singgasana yang kau rebut, bersama wanita itu. Aku diam. Bukan karena lemah. Sama sekali bukan. Aku hanya... **MEMILIH** diam. Karena di balik diamku, tersembunyi sebuah rahasia besar. Sebuah rahasia yang mampu mengguncang dinasti ini hingga ke akarnya. Sebuah perjanjian darah yang kuikat dengan *Dewi Bulan*. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu dari mana kekayaanmu berasal? Dari mana kekuatanmu merebut takhta? Kau pikir aku tidak melihat seringai licik *Ibumu*, Permaisuri yang terhormat, saat menuangkan arak beracun ke cangkir *Ayahku*? Aku tahu. Aku tahu segalanya. Tapi aku memilih diam. Karena dendam terbaik adalah membiarkan takdir menari sendiri. Awalnya, aku hanya melihat keanehan. Sebuah lukisan *burung phoenix* di paviliunmu yang selalu berubah posisi. Secarik kertas berisi mantra aneh yang terselip di bawah bantalmu. Lalu, mimpi-mimpi buruk yang menghantuiku setiap malam, tentang *hutan terlarang* dan suara lolongan serigala. Semakin lama, kepingan-kepingan itu membentuk sebuah gambaran yang mengerikan. *Kau*... kau telah bersekutu dengan kekuatan gelap. Kau telah menodai darah *Keluarga Kekaisaran* dengan sihir terlarang! Dan aku, sebagai pewaris sah garis keturunan *Ayahku*, memiliki kekuatan untuk membatalkannya. Maka, aku melangkah ke dalam kegelapan tanpamu. Bukan untuk menjatuhkanmu secara langsung, tapi untuk membiarkan kutukanmu bekerja dengan sendirinya. Dewi Bulan telah mendengar doaku. Dia melihat pengkhianatanmu. Dia akan membalasnya. Aku melihatnya di matamu, *Gege*. Ketakutan. Keputusasaan. Kekuatanmu mulai menggerogoti dirimu dari dalam. Senyummu yang dulu menawan kini hanya topeng yang retak. Wanita itu, selir kesayanganmu, mulai menjauh. Rakyat mulai berbisik tentang *kutukan kaisar*. Tak ada kekerasan. Tak ada pertumpahan darah. Hanya takdir yang berbalik arah. Kau merebut segalanya dariku, dan kini... kau kehilangan segalanya. Malam ini, aku meninggalkan Paviliun Anggrek. Aku akan memulai hidup baru, di tempat yang jauh dari ingar bingar istana. Aku akan membiarkanmu merasakan dinginnya kesepian di singgasanamu yang berlumuran dosa. Aku akan membiarkanmu menanggung **AKIBATNYA**. Saat aku menunggang kuda menjauhi istana, aku melihat ke belakang. Kau berdiri di balkon, menatapku dengan mata kosong. Hujan semakin deras. Dan aku tahu... kau akan menghabiskan sisa hidupmu bertanya-tanya... *apa yang sebenarnya telah kulakukan*.
You Might Also Like: Kenapa Harus Moisturizer Gel Dengan

0 Comments: