Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Menatap Langit Kota, Tapi yang Kulihat Hanya Siluetmu** Kabut lembah Wuyi men...

FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Kota, Tapi Yang Kulihat Hanya Siluetmu FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Kota, Tapi Yang Kulihat Hanya Siluetmu

FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Kota, Tapi Yang Kulihat Hanya Siluetmu

FULL DRAMA! Aku Menatap Langit Kota, Tapi Yang Kulihat Hanya Siluetmu

Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Aku Menatap Langit Kota, Tapi yang Kulihat Hanya Siluetmu** Kabut lembah Wuyi menari-nari, menyembunyikan tebing-tebing curam dalam selubung misteri. Sepuluh tahun lalu, Li Wei menghilang di lembah ini, meninggalkan tunangannya, Mei Lan, dengan hati hancur dan pertanyaan yang tak terjawab. Seluruh kota percaya dia jatuh ke jurang, diterkam kegelapan. Tapi Mei Lan… Mei Lan *merasakan* ada yang berbeda. Kini, di tengah gemerlap lampu Kota Terlarang, Mei Lan berdiri, gaun cheongsam sutra hijaunya berkibar lembut. Langit kota kelabu, ditutupi asap dan polusi. Namun, di balik kelabu itu, ia mencari bayangan. Bayangan Li Wei. Kemudian, di lorong istana yang sunyi, dengan obor-obor kuno berkedip-kedip, ia melihatnya. Sosok itu tinggi, bahunya tegap, tapi wajahnya… *berubah*. Ada aura dingin dan berbahaya yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Wei… Li Wei?" bisik Mei Lan, suaranya nyaris tak terdengar. Pria itu berbalik perlahan. Matanya, sedalam danau es di musim dingin, menatapnya. "Mei Lan. Sudah lama sekali." Suaranya, meski lembut, terasa tajam bagai belati. "Kemana kau pergi? Semua orang mengira kau…" "Mati?" potong Li Wei, senyum tipis bermain di bibirnya. "Mungkin bagian dari diriku memang mati di lembah itu. Tapi yang kembali… adalah sesuatu yang *lebih*." Mei Lan terdiam. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. "Apa maksudmu?" Li Wei mendekat, langkahnya bagai harimau yang mengintai mangsanya. "Dulu, aku hanyalah anak laki-laki bodoh yang dibutakan cinta. Aku percaya padamu, Mei Lan. Aku percaya pada janjimu." "Janji apa?" tanya Mei Lan, jantungnya berdebar kencang. "Janji untuk melindungiku dari *mereka*. Keluarga Zhu. Mereka menginginkan tanah leluhurku, Mei Lan. Dan kau… *KAU* yang membukakan jalan bagi mereka." Mata Mei Lan membelalak. "Itu tidak benar! Aku…" "Diam!" bentak Li Wei, suaranya tiba-tiba menggelegar. "Aku melihatnya, Mei Lan. Aku melihatmu berbicara dengan Zhu Chang. Aku mendengar rencanamu. Kau menggunakan aku sebagai *umpan*." Air mata mulai mengalir di pipi Mei Lan. "Aku melakukannya untukmu! Untuk melindungi kita berdua! Keluarga Zhu kuat, Wei! Kita tidak punya pilihan!" Li Wei tertawa, tawa yang hampa dan menyakitkan. "Melindungi? Dengan mengkhianatiku? Dengan berpura-pura berduka atas kematianku? Sungguh pengorbanan yang mulia." Ia menarik keluar sebuah liontin giok dari balik jubahnya. Liontin itu adalah hadiah pernikahannya untuk Mei Lan, retak di tengahnya. "Kau tahu, Mei Lan," bisik Li Wei, suaranya kembali melembut, "selama sepuluh tahun ini, aku telah belajar banyak hal. Aku belajar tentang kesabaran, tentang strategi, tentang… *kekuasaan*. Dan aku telah membangun kerajaan dari abu, kerajaan yang akan menelan seluruh keluarga Zhu." Mei Lan menatapnya dengan ngeri. "Kau… kau merencanakan ini semua?" Li Wei mengangguk. "Sejak hari aku bangkit dari lembah itu, aku telah memanipulasi setiap langkah, setiap kejadian. Keluarga Zhu jatuh ke dalam perangkapku satu per satu. Dan sekarang… giliranmu, Mei Lan." Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk memeluk, tapi untuk mencekik. Mei Lan tidak melawan. Ia tahu. Ia *selalu* tahu. Li Wei membisikkan kata-kata terakhirnya, bibirnya menyentuh telinga Mei Lan. "Kau bukanlah korban, Mei Lan. Kau adalah arsitek dari kehancuranmu sendiri. Dan aku… hanyalah instrumennya." Lalu, kesunyian kembali memenuhi lorong istana. Hanya suara obor yang berkedip dan aroma dupa yang memenuhi udara. *Rupanya, permainan catur ini, pion yang dianggap lemah justru memegang kendali atas raja.*
You Might Also Like: Reseller Skincare Supplier Skincare

0 Comments: