## Kau Hidup di Istana, Aku di Bayangan Dosa Lantai marmer Istana Jinghua terasa *dingin* di telapak tanganku. Aku, Bai Lianhua, pelayan rendahan, seharusnya tak menginjakkan kaki di sini. Namun, aroma melati yang menusuk hidung, sama persis dengan yang dulu, membawaku kembali. Bukan hanya kembali ke istana, tapi kembali ke... *kehidupan lain*. Dulu, aku bukan Lianhua. Aku adalah Permaisuri Hua, istri kesayangan Kaisar. Dicintai, dipuja, namun akhirnya... dikhianati. Pengkhianatan itu membekas, sebuah lubang hitam yang menganga di jiwaku. Aku melayani Putri Xian, gadis kecil yang rapuh dan kesepian. Setiap kali melihat matanya yang bening, bayangan masa lalu menari-nari di pelupuk mata. *Bayangan istana yang penuh intrik, senyum palsu, dan pisau yang tersembunyi*. Lama-lama, kepingan ingatan itu kembali. Senyum Kaisar yang menghangatkan, percakapan rahasia di taman bunga persik, dan... wajah *Wanita Itu*. Selir Mei, yang selalu menebar senyum manis padaku, yang ternyata... yang merebut segalanya. Dia meracuniku. Pelan, namun pasti. Membuatku lemah, sakit, hingga akhirnya meregang nyawa dalam kesepian di balik tirai sutra. *RACUN MELATI*. Aroma yang seharusnya menenangkan, kini terasa seperti belati yang menusuk jantung. Sekarang, Selir Mei adalah Permaisuri saat ini. Ia duduk di takhta yang dulu menjadi milikku, tersenyum angkuh pada semua orang. Kekuatannya besar, pengaruhnya luas. Tapi ia tak mengenaliku. Ia melihatku hanya sebagai Lianhua, pelayan biasa. Balas dendam? Tidak, aku tak menginginkan darah. Aku menginginkan keadilan. Aku akan memastikan bahwa kebenaran terungkap, bahwa takdirnya berubah. Aku melihat Putri Xian, gadis kecil yang tak berdosa. Dia adalah kunci. Dia akan menjadi kaisar yang bijaksana, pemimpin yang adil. Aku akan membimbingnya, melindunginya, dan memastikan ia tak mengulangi kesalahan masa lalu. Suatu malam, di bawah rembulan yang pucat, aku memberikan Putri Xian sebuah buku. Bukan sembarang buku. Itu adalah catatan harian Permaisuri Hua, yang aku sembunyikan sebelum kematianku. "Baca ini, Putri," bisikku. "Kebenaran akan membebaskanmu." Aku tahu, membaca catatan itu akan mengubah segalanya. Putri Xian akan mengetahui kebusukan di balik senyum Permaisuri. Ia akan melihat bagaimana Wanita Itu merenggut nyawa Permaisuri Hua, nyawa *IBUNYA*. Dan ketika Putri Xian menjadi kaisar, ia akan membuat keputusan. Keputusan yang akan menghancurkan Permaisuri Mei, bukan dengan darah, tapi dengan KEADILAN. Ia akan membongkar kejahatannya, mengungkap pengkhianatannya, dan mengembalikan kedamaian di istana. Aku akan menyaksikan semuanya dari balik bayangan. Aku akan melihat takdirnya berputar, seperti roda yang tak pernah berhenti. Kemudian, aku akan pergi. Meninggalkan istana ini, meninggalkan bayangan dosa ini, dan mencari kedamaian sejati. Tapi sebelum itu... Aku membungkuk hormat pada Putri Xian, air mata mengalir di pipiku. "Sampai jumpa, Putri. Sampai kita bertemu lagi... di kehidupan selanjutnya." Dan aku tahu, di suatu tempat di antara bintang-bintang dan debu, sebuah janji terukir abadi: *hutangku padamu belum lunas*.
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Dengan
0 Comments: