Tentu, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Bayangan yang Menjadi Saksi Pengkhianatan', dengan sentuhan yang Anda minta: **Bayangan yang Menjadi Saksi Pengkhianatan** Kabut pegunungan Tai Shan menyelimuti puncak seperti kerudung kematian. Di bawahnya, Istana Jade Dragon berdiri megah, namun terasa sunyi. Lorong-lorongnya bagai labirin tanpa ujung, hanya diterangi obor yang menari-nari, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Di sanalah, *dia* kembali. Lin Wei. Lima tahun lalu, namanya diukir di batu nisan, dianggap gugur dalam pertempuran melawan pemberontak. Namun, malam ini, siluetnya muncul dari balik pilar marmer, matanya sekelam obsidian, menyimpan **RAHASIA**. "Saudara Lin?" suara itu berdesir, lembut namun mengandung getaran. Han Jian, sahabat sekaligus *komandan* Lin Wei dulu, menyambutnya dengan tatapan terkejut. Di matanya, bercampur antara kelegaan dan...ketakutan? "Han Jian," balas Lin Wei, suaranya bagai gemerisik dedaunan kering. "Lama tak jumpa. Kudengar kau menjadi jenderal besar. Sungguh pencapaian luar biasa." "Kami... kami semua berduka atas kepergianmu," Han Jian berusaha menutupi kegugupannya. "Lima tahun ini, istana merindukanmu." Lin Wei tertawa pelan, tawa tanpa kehangatan. "Merindukanku? Atau merindukan kepergianku?" Ia melangkah mendekat, bayangannya memanjang di dinding. "Apakah kau tahu, Han Jian, bayangan memiliki ingatan yang tajam. Mereka menyaksikan apa yang tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manis." "Apa maksudmu?" Han Jian mundur selangkah, tangannya tanpa sadar menyentuh gagang pedangnya. Lin Wei berhenti tepat di hadapannya. "Ingatkah kau malam di Lembah Naga? Saat para pemberontak menyergap kita? Kau bilang, aku terdesak dan jatuh ke jurang." Matanya menyipit. "Tapi *bayanganku* melihatmu, Han Jian. Ia melihatmu menusuk punggungku, lalu mendorongku ke dalam kegelapan." Keheningan mencekam. Hanya suara obor yang berderak, mempertegas pengakuan mengerikan itu. Han Jian terdiam, wajahnya memucat. "Kenapa?" bisik Lin Wei. "Kenapa kau mengkhianatiku?" Han Jian menegakkan tubuhnya. Senyum dingin perlahan terukir di bibirnya. "Karena aku *menginginkan* segalanya. Jabatanmu. Kekuasaanmu. Bahkan... kecintaan Putri Lian Hua." Ia menarik pedangnya, kilatnya memantulkan cahaya obor. "Kau adalah penghalang, Lin Wei. Dan penghalang harus disingkirkan." Pertarungan terjadi singkat dan mematikan. Lin Wei, meski lama menghilang, masih memiliki keahlian bertarung yang luar biasa. Namun, yang paling mengejutkan adalah, saat pedang Lin Wei mengarah ke jantung Han Jian, ia tidak menikamnya. Lin Wei menjatuhkan pedangnya. "Kau salah sangka, Han Jian. Aku *tidak* kembali untuk membalas dendam." Ia menunjuk ke arah lorong gelap. "Para pemberontak yang sebenarnya, yang kau gunakan untuk menyergapku, telah lama aku kendalikan. Mereka adalah bidakku. *Dan kau adalah bidak terakhirku*." Di saat itu, suara langkah kaki bergemuruh dari dalam istana. Para prajurit, yang selama ini setia pada Han Jian, kini menodongkan tombak ke arahnya. Wajah mereka dingin, tanpa ekspresi. Han Jian terhuyung, menyadari betapa bodohnya ia. Semua yang ia kejar, semua yang ia inginkan, telah diatur oleh Lin Wei sejak *awal*. Kebencian dan penyesalan bercampur di matanya. Lin Wei berbalik, berjalan menjauh, meninggalkan Han Jian yang tercabik oleh pengkhianatan ganda. Saat ia menghilang di balik bayangan, suaranya yang dingin menggema, "Kematianmu adalah harga yang harus kau bayar. Tapi *kehidupanmu* akan menjadi pelajaran bagi mereka yang berani meremehkan kekuatan bayangan." *** Dan di saat itulah, semua orang menyadari, sang "korban" yang mereka ratapi selama ini, adalah *dalang* dari seluruh kekacauan ini. Dan dia, Lin Wei, adalah sosok yang lebih menakutkan dari iblis sekalipun!
You Might Also Like: 194 Ironwood Animal Hospital San Tan
0 Comments: