**Rintik Hujan di Bukit Terlupakan** Hujan menggigil membasahi Bukit Terlupakan, seolah langit pun turut berduka. Di gubuk reyot, Lianyi m...

Cerita Seru: Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas Cerita Seru: Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas

Cerita Seru: Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas

Cerita Seru: Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas

**Rintik Hujan di Bukit Terlupakan** Hujan menggigil membasahi Bukit Terlupakan, seolah langit pun turut berduka. Di gubuk reyot, Lianyi menatap api unggun yang menari-nari lemah. Cahaya lentera di sudut ruangan berkedip-kedip, nyaris padam, sama seperti harapannya. Lima belas tahun sudah berlalu sejak pengkhianatan itu, sejak **dia**, Bai Jun, merebut segalanya darinya. Dulu, di dunia itu, di ibukota gemerlap dengan istana megah dan intrik mematikan, Lianyi bukanlah siapa-siapa bagi Bai Jun. Hanya seorang pion dalam permainan kekuasaan. Seorang putri dari kerajaan yang ditaklukkan, yang dinikahi untuk mengamankan aliansi yang rapuh. Cintanya, yang tulus dan membara, tak pernah terbalas. Bai Jun, sang pangeran yang tampan dan berkuasa, hanya melihatnya sebagai kewajiban, bukan wanita yang dicintai. Namun, di dunia ini, di Bukit Terlupakan yang sunyi, semuanya terasa berbeda. Bai Jun menemukannya. Pria itu datang dengan tatapan menyesal, memohon ampun atas dosa-dosanya di masa lalu. Rambutnya dipenuhi hujan, wajahnya dipenuhi kerinduan. Lianyi bisa melihat kesedihan yang tulus di matanya, tapi hatinya sudah terlalu lama membeku. "Lianyi… maafkan aku," bisiknya, suaranya serak. Lianyi hanya membalas dengan senyuman dingin. "Maaf? Apakah maaf bisa mengembalikan kehormatan yang direnggut? Apakah maaf bisa menghapus rasa sakit pengkhianatan?" Setiap hari, Bai Jun berusaha menebus kesalahannya. Ia membawakan kayu bakar, memasak makanan, dan merawat luka-luka lama Lianyi. Ia menceritakan tentang penyesalannya, tentang mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam. Ia bahkan berjanji untuk memberikan nyawanya sebagai tebusan. Namun, Lianyi tetaplah dingin. Ia membiarkan Bai Jun melayaninya, memperhatikannya, dan mencintainya. Ia membiarkannya merasakan sedikit saja dari kehampaan yang selama ini menghantuinya. Bayangan mereka berdua menari-nari di dinding gubuk, patah dan terdistorsi, mencerminkan hubungan mereka yang penuh luka dan dendam. Di balik senyum tipis dan tatapan kosongnya, Lianyi menyimpan rencana yang telah dipersiapkannya selama bertahun-tahun. Setiap tindakan Bai Jun, setiap pengakuannya, hanya bahan bakar untuk apinya. Ia membiarkan Bai Jun mendekat, agar ia bisa menikamnya dengan lebih menyakitkan. Suatu malam, saat hujan badai mengamuk di luar, Lianyi akhirnya berbicara. "Bai Jun… aku memaafkanmu." Mata Bai Jun berbinar. "Benarkah? Benarkah kau memaafkanku?" Lianyi mengangguk, lalu meraih cangkir berisi cairan berwarna gelap. "Minumlah ini. Ini adalah ramuan yang akan menyembuhkan semua luka-lukamu, luka-luka yang disebabkan olehku." Bai Jun tanpa ragu meneguk cairan itu. Ia percaya pada Lianyi. Ia mencintainya. Ia rela melakukan apapun untuk menebus kesalahannya. Saat Bai Jun mulai terbatuk dan memegangi dadanya, Lianyi tersenyum puas. "Bodohnya dirimu. Kau benar-benar percaya bahwa aku bisa memaafkanmu?" Bai Jun menatap Lianyi dengan tatapan terluka dan penuh kebingungan. Ia merangkak mendekat, berusaha meraih tangannya. "Lianyi… mengapa?" Lianyi menendang tangannya, menjauhkan Bai Jun darinya. "Karena kau telah menghancurkan hidupku! Dan sekarang, giliranmu yang menderita!" Bai Jun ambruk ke lantai. Napasnya tersengal-sengal. "Kau… *tahu*?" Lianyi berjongkok di sampingnya, membisikkan kata-kata terakhirnya di telinga Bai Jun. "Aku tahu segalanya, Bai Jun. Aku tahu tentang malam itu. Aku tahu tentang orang yang *sebenarnya* membunuh ayahku." Saat napas terakhir Bai Jun keluar, Lianyi berdiri dan menatap mayatnya dengan tatapan kosong. Dendamnya telah terbalas, tapi hatinya tetap hampa. Lalu, di tengah keheningan Bukit Terlupakan, Lianyi mengangkat lentera yang nyaris padam dan berjalan menuju hutan. *Dan kemudian, terungkaplah bahwa di dunia ini, Lianyi bukanlah Lianyi yang dulu, melainkan reinkarnasi dari….*
You Might Also Like: Unveil Enigmatic Traits Of December 19

0 Comments: