Judul: Aku Menjadi Memo di HP-nya: "Jangan Hubungi Lagi"
Lorong Istana Timur itu sunyi. Dinding-dinding batu menjulang, memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Kabut tipis merayap, menyamarkan ukiran naga dan phoenix yang dulunya megah, kini seolah menyimpan RAHASIA KELAM yang tak terucap. Di ujung lorong, berdiri seorang pria. Jubah putihnya berkibar lembut, wajahnya teduh, tapi matanya… matanya menyimpan badai. Dia adalah Li Wei, yang lima tahun lalu dikabarkan tewas dalam pertempuran di perbatasan utara.
Dia menghampiri seorang wanita yang duduk di taman, membelakangi lorong. Punggungnya tegak, namun bahunya terlihat rapuh. Rambutnya yang hitam legam tergerai hingga pinggang, kontras dengan gaun sutra putih yang dikenakannya. Wanita itu adalah Mei Lan, tunangannya, yang kini menjadi permaisuri kerajaan.
"Mei Lan," bisik Li Wei, suaranya lirih seperti desahan angin.
Mei Lan berbalik, matanya membulat. KETAKUTAN dan kebingungan bercampur aduk di sana. "Li… Li Wei? Kau… kau hidup?"
Li Wei mengangguk pelan. "Aku kembali untuk mencari jawaban."
Mei Lan berdiri, melangkah mundur. "Jawaban? Apa yang kau cari? Bukankah semua sudah jelas? Kau… kau sudah lama mati."
"Kematianku tidak sejelas yang kau kira, Mei Lan. Ada kejanggalan. Ada pertanyaan yang tak terjawab," balas Li Wei, mendekat perlahan. "Siapa yang memerintahkan pasukan kita menuju lembah kematian itu? Siapa yang menyabotase persediaan kita? Siapa yang mengkhianati kita?"
Mei Lan menelan ludah. "Aku… aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Li Wei berhenti tepat di hadapannya. Matanya menatap tajam, seolah bisa menembus jiwanya. "Kau tahu. Kau tahu segalanya, Mei Lan. Aku melihatnya di matamu. Kebenaran itu terkubur dalam keheninganmu."
"Aku hanya seorang wanita," Mei Lan bersuara, nada suaranya bergetar. "Apa yang bisa kulakukan? Aku tidak punya kekuatan."
Li Wei tersenyum sinis. "Kau selalu punya kekuatan, Mei Lan. Kekuatan untuk memanipulasi, untuk berbohong, untuk menghancurkan. Aku melihatnya sejak pertama kali kita bertemu. Aku hanya terlalu buta untuk mempercayainya."
Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari balik jubahnya, memperlihatkan layar dengan tulisan yang tertera jelas: "Jangan Hubungi Lagi".
"Kau ingat ini, Mei Lan? Ini adalah nama kontakku di ponselmu sebelum aku pergi. Sebuah peringatan untuk dirimu sendiri, agar tidak terikat pada masa lalu. Agar kau bisa bebas melanjutkan rencanamu."
Mei Lan terdiam. Matanya berkilat penuh perhitungan. Kemudian, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Kau benar, Li Wei. Aku memang selalu punya kekuatan. Dan kekuatan itu cukup untuk memastikan kau 'mati' di lembah itu. Kau pikir kau korban? Kau keliru. Aku yang memegang kendali sejak awal."
Kabut di lorong itu semakin pekat, menyelimuti kedua sosok tersebut dalam sunyi yang mencekam. Kebenaran itu akhirnya terbongkar, pahit dan mematikan.
Dan tiba-tiba, Li Wei menyadari, ia hanyalah pion dalam permainannya, dan skakmat sudah terjadi lima tahun lalu.
You Might Also Like: 181 Download Abraham Lincoln Premier
0 Comments: