Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Langit yang Mengutuk Keturunan** Lorong istana itu sunyi. Hanya gema langkah kaki Ji...

Cerpen: Langit Yang Mengutuk Keturunan Cerpen: Langit Yang Mengutuk Keturunan

Cerpen: Langit Yang Mengutuk Keturunan

Cerpen: Langit Yang Mengutuk Keturunan

Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Langit yang Mengutuk Keturunan** Lorong istana itu sunyi. Hanya gema langkah kaki Jiulan yang memecah keheningan. Dindingnya menjulang, dipenuhi lukisan naga yang matanya seolah mengikuti setiap geraknya. Jiulan, yang dulu dianggap tewas dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu, kini kembali. Wajahnya tertutup cadar, namun aura dinginnya terasa hingga ke tulang. Di ujung lorong, Kaisar Li Wei menunggunya. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar menyinari wajahnya yang lelah. "Jiulan… atau seharusnya aku memanggilmu *Mayat Hidup*?" sapa Kaisar Li Wei, suaranya berat. Jiulan berhenti. "Kaisar terlalu meremehkanku. Aku lebih dari sekadar hantu masa lalu." Suaranya lembut, namun setiap kata terasa bagai jarum yang menusuk. "Mengapa kau kembali? Dendam apa lagi yang kau simpan?" "Dendam? *Tidak*. Aku hanya datang untuk menagih janji." Jiulan mendekat perlahan, cadarnya bergoyang seiring langkahnya. "Janji yang kau buat pada malam ibu kita dibantai. Janji untuk menghancurkan keluarga Lan, keluarga yang kau tuduh sebagai pengkhianat." Kaisar Li Wei terdiam. Kabut masa lalu tiba-tiba terasa begitu pekat. "Itu… itu demi keamanan kerajaan! Mereka merencanakan kudeta!" "Oh, benarkah?" Jiulan tertawa lirih. Tawa itu bagai angin dingin yang bertiup dari pegunungan bersalju. "Atau karena mereka mengetahui rahasia *kita*? Rahasia darah yang mengalir di nadiku, darah yang sama mengalir di nadimu?" Kaisar Li Wei mundur selangkah. "Kau… kau tahu?" "Tentu saja. Aku tahu semua. Bahkan aku tahu bahwa 'pemberontakan' sepuluh tahun lalu hanyalah sandiwara. Sandiwara yang kau dalangi untuk menyingkirkan siapapun yang menjadi ancaman." Jiulan mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin giok yang sama persis dengan yang dipakai Kaisar Li Wei. "Cincin ini, Kaisar. Cincin ini membuktikan bahwa kau adalah keturunan Lan, sama sepertiku." Kaisar Li Wei gemetar. Semua usahanya selama ini, semua kekuasaan yang diraihnya, terancam runtuh hanya karena satu kebenaran. "Aku tahu kau akan melakukan apapun untuk melindungi tahtamu," lanjut Jiulan. "Termasuk menuduhku pengkhianat, mengasingkanku, dan membiarkan aku 'mati'. Tapi *kau lupa*, Yang Mulia. Setiap pemain memiliki peran. Dan peranmu… hanya pion dalam permainanku." Jiulan membuka cadarnya. Wajahnya, meskipun dipenuhi bekas luka, tetap memancarkan kecantikan yang mematikan. Tatapannya menusuk, penuh perhitungan. "Selama ini, kaulah yang percaya telah mengendalikanku. Padahal, akulah yang memberimu benang dan jarum, membiarkanmu menjahit kain takdirmu sendiri." Kaisar Li Wei terdiam, matanya membelalak. Kebenaran itu akhirnya menemukan bentuknya, **MENGERIKAN** dan tak terelakkan.
You Might Also Like: Pedang Yang Menangis Di Balik Tirai

0 Comments: