Hujan menggigil di pelataran istana, setiap tetesnya bagai air mata langit yang turut berduka. Lengannya terasa kebas, menggenggam erat lent...

Drama Abiss! Selir Rendahan Yang Tak Diingat Siapa Pun, Tapi Mati Di Pelukan Kaisar Drama Abiss! Selir Rendahan Yang Tak Diingat Siapa Pun, Tapi Mati Di Pelukan Kaisar

Drama Abiss! Selir Rendahan Yang Tak Diingat Siapa Pun, Tapi Mati Di Pelukan Kaisar

Drama Abiss! Selir Rendahan Yang Tak Diingat Siapa Pun, Tapi Mati Di Pelukan Kaisar

Hujan menggigil di pelataran istana, setiap tetesnya bagai air mata langit yang turut berduka. Lengannya terasa kebas, menggenggam erat lentera yang cahayanya *nyaris padam*. Di sinilah, di paviliun terpencil ini, dia menghabiskan hari-harinya, seorang selir rendahan yang tak diingat siapa pun. Mei Hua. Dulu, namanya adalah melodi yang sering berbisik di telinga Kaisar. Dulu, senyumnya adalah mentari bagi istana yang megah namun dingin ini. Dulu, tangannya, yang kini kasar dan dingin, pernah digenggam erat penuh cinta oleh seorang pria yang berjanji akan melindunginya selamanya. Kaisar Li Wei. Bayangannya, yang dulu panjang dan hangat, kini *patah* terbelah di dinding paviliun. Pengkhianatan. Itu kata yang menggerogoti hatinya setiap malam. Fitnah keji yang dilancarkan permaisuri, rasa percaya Kaisar yang luntur secepat salju di musim semi, dan pengasingan ke paviliun ini. Semua terjadi begitu cepat, meninggalkan Mei Hua hancur dan sendiri. Setiap malam, dia menulis. Bukan puisi cinta yang dulu menghiasi gulungan sutra, melainkan baris-baris dendam yang disulam dengan tinta kesedihan. Dia merekam setiap nama, setiap pengkhianatan, setiap air mata. Cahaya lentera menari-nari, seolah berbagi kesedihan dan amarahnya. Suatu malam, Kaisar Li Wei datang. Matanya sayu, wajahnya pucat. Penyakitnya telah merenggut sebagian besar kekuatannya. Dia berdiri di ambang pintu, basah kuyup oleh hujan. "Mei Hua," bisiknya, suaranya serak. "Maafkan aku." Mei Hua tidak menjawab. Dia hanya menatapnya, tatapan yang dulu penuh cinta kini sedingin es. Dia mendekat, memberikan Kaisar selimut kering. Tangannya gemetar saat menyentuh tangannya. "Apakah kau… benar-benar membenciku?" tanya Kaisar, suaranya nyaris tak terdengar. Mei Hua tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah dilihat Kaisar selama bertahun-tahun. "Benci? Bukan, Yang Mulia. Benci terlalu *sederhana* untuk perasaan yang saya miliki." Dia meraih secangkir teh hangat yang telah disiapkannya. Uapnya mengepul lembut, menutupi sebagian wajahnya. Kaisar menerimanya dengan tangan gemetar. "Minumlah," kata Mei Hua, suaranya tenang. "Ini… teh yang sangat spesial." Kaisar menyesap teh itu. Wajahnya mengernyit. Rasa pahit menyengat lidahnya. "Apa… apa ini?" tanyanya, dengan susah payah. Mei Hua mendekat, berbisik di telinganya. "Itu rasa pahitnya pengkhianatan, Yang Mulia. Sama pahitnya dengan yang kurasakan selama ini." Kaisar Li Wei terhuyung. Matanya kehilangan fokus. Dia jatuh ke pelukan Mei Hua. Di tengah suara hujan yang menderu, Mei Hua menatap langit. Cahaya lentera akhirnya padam. *Dan racun itu… bukan sekadar racun.*
You Might Also Like: Discover Controversial Personal Life Of

0 Comments: