Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* berjudul "Janji yang Kubawa ke Neraka": **Janji yang Kubawa ke Neraka** Dentingan guqin membelah malam yang sunyi. Di balik jendela berukir naga, Mei Lan duduk bersimpuh, jemarinya menari di atas senar, menghasilkan melodi yang *lirih* dan *menusuk*. Setiap nada adalah penyesalan, setiap getaran adalah kenangan yang *memudar*. Lima tahun lalu, di bawah pohon persik yang sedang bermekaran, *kami* bersumpah. Aku, Mei Lan, dan dia, Pangeran Li Wei. Janji setia, janji sehidup semati. Janji yang kini terasa seperti bara api di dalam hatiku. Li Wei menikahi putri kerajaan tetangga. Demi kekuasaan, demi perdamaian. Alasan yang terdengar mulia, namun menghancurkan segalanya. Orang-orang mengira aku hancur. Mereka melihatku diam, mereka mengira aku lemah. Mereka salah. *Aku menyimpan rahasia.* Rahasia yang lebih berharga dari nyawaku sendiri. Rahasia yang jika terungkap, akan mengguncang seluruh kekaisaran. Aku tahu Li Wei tidak mencintai putri itu. Aku melihatnya, dari sorot matanya, dari caranya mencuri pandang ke arahku saat upacara pernikahan. Tapi bibirnya terkatup rapat. Seperti diriku. Malam demi malam, aku memainkan guqin. Melodi kesedihanku menjadi selimut bagi istana. Rumor beredar tentang hantu wanita yang menghantui taman belakang. Mereka tidak tahu, hantu itu hanyalah aku, Mei Lan, yang berusaha *menelan* seluruh amarah dan rasa sakit. Beberapa bulan kemudian, putri kerajaan jatuh sakit. Penyakit misterius yang tidak bisa disembuhkan. Tabib istana kebingungan. Li Wei semakin murung. *Aku tahu apa yang terjadi.* Aku tahu siapa penyebabnya. Dulu, sebelum janji di bawah pohon persik, aku belajar dari seorang pertapa di gunung. Aku belajar tentang racun. Racun yang tak terdeteksi, yang bekerja perlahan, yang merenggut nyawa tanpa meninggalkan jejak. *Aku tidak pernah menggunakannya.* Sampai sekarang. Bukan aku yang meracuni sang putri. *Tapi aku tahu siapa yang melakukannya.* Dia adalah selir kesayangan Li Wei, Nyonya Zhao. Ambisi membakar hatinya, membuatnya gelap dan penuh intrik. Dia ingin menjadi permaisuri, dan putri kerajaan adalah penghalangnya. Aku melihatnya, malam itu, menyelinap ke kamar sang putri. Aku melihatnya meneteskan cairan ke dalam cangkir teh. Aku merekamnya dalam *ingatan*ku. Aku tidak melakukan apa pun. Aku tidak berteriak. Aku tidak melaporkannya. Biarkan takdir yang bermain. Biarkan keadilan datang dengan caranya sendiri. Sang putri meninggal. Li Wei menikahi Nyonya Zhao. Kebahagiaan palsu terpancar dari wajah mereka. Aku tersenyum pahit. Beberapa tahun kemudian, istana diguncang skandal. Nyonya Zhao terbukti korupsi, mencuri kekayaan kerajaan. Dia dihukum berat. Li Wei, yang selama ini dibutakan oleh cintanya, *terpukul* telak. Sebelum dieksekusi, Nyonya Zhao memanggil Li Wei. Aku tahu apa yang akan dia katakan. “Li Wei,” bisiknya, “Aku melakukan semua ini untukmu! Aku ingin menjadi permaisurimu! *Tapi Mei Lan… dia tahu.* Dia tahu aku yang meracuni putri itu, dan dia membiarkannya terjadi! Dia membiarkanmu menikahi seorang pembunuh!” Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Li Wei menatapku dengan mata *penuh* pertanyaan. Aku hanya tersenyum. “Benar,” kataku tenang. “Aku tahu. Tapi aku punya janji yang lebih berharga dari dendam. Janji yang kubawa ke neraka.” Aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Biarkan dia menebak. Biarkan dia dihantui oleh penyesalan seumur hidupnya. Biarkan dia bertanya-tanya, janji apa yang lebih berharga dari kematian seorang putri, dari keadilan, dari cintanya kepadaku. Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Li Wei yang berdiri terpaku di sana. Dering guqin kembali memenuhi udara, lebih lirih, lebih menusuk dari sebelumnya. *Aku membiarkan dia hidup dalam nerakanya sendiri.* Dan rahasia itu? Tetap aman di dalam hatiku. Karena janji itu...adalah *janji*ku pada ibuku, untuk melindungi keturunan terakhir dinasti yang digulingkan, *yang saat ini sedang kukandung.* Ia akan menjadi kaisar yang lebih baik... …dan dia tidak akan pernah tahu.
You Might Also Like: Google Updates Its Find My Device App

0 Comments: