**Aku menatap langit merah, tapi yang kulihat hanya darah dan doa.** Kabut senja merayapi lembah, seperti *kerudung sutra* yang menyembunyik...

Wajib Baca! Aku Menatap Langit Merah, Tapi Yang Kulihat Hanya Darah Dan Doa Wajib Baca! Aku Menatap Langit Merah, Tapi Yang Kulihat Hanya Darah Dan Doa

Wajib Baca! Aku Menatap Langit Merah, Tapi Yang Kulihat Hanya Darah Dan Doa

Wajib Baca! Aku Menatap Langit Merah, Tapi Yang Kulihat Hanya Darah Dan Doa

**Aku menatap langit merah, tapi yang kulihat hanya darah dan doa.** Kabut senja merayapi lembah, seperti *kerudung sutra* yang menyembunyikan rahasia. Di puncak bukit, aku berdiri, menatap langit yang terluka. Merah, begitu merah, seolah darah tumpah ruah dari jantung sang waktu. Dulu, di bawah langit yang sama, kita berjanji. Janji yang kini hanya tinggal *echo* di antara desau angin. Bibirku berbisik, menyebut namamu, *Lian*. Nama yang terasa seperti mantra terlarang, membangkitkan kenangan yang seharusnya terkubur dalam lautan lupa. Kau hadir dalam ingatanku, selembut kelopak bunga persik yang tertiup angin. Rambut hitammu bagai malam yang tak berujung, matamu bagai danau yang menyimpan ribuan bintang. Kita bertemu di *lukisan* kakekku, di dunia yang hanya tercipta dari sapuan kuas dan warna-warna mimpi. Aku, seorang pelukis yang terpenjara dalam dunia nyata, dan kau, bidadari yang hanya hidup di atas kanvas. Cintamu adalah ilusi, tapi ilusi itulah yang membuatku bernapas. Setiap malam, aku masuk ke dalam lukisan itu, menembus dimensi yang memisahkan kita. Kita berdansa di bawah rembulan perak, tertawa di antara bunga sakura yang berguguran, dan berjanji untuk selalu bersama. Tapi, dunia lukisan bukanlah tempat untuk selamanya. Fajar selalu datang, menarikku kembali ke dunia nyata, meninggalkanmu sendirian di sana. Aku tahu, ini gila. Mencintai seseorang yang tidak nyata. Tapi, hatiku *terlanjur* tertawan. Aku mencoba melupakanmu, tapi bayanganmu selalu menghantuiku. Di setiap lukisanku, wajahmu selalu muncul, tanpa bisa kukendalikan. Suatu hari, aku menemukan sebuah kotak tua di loteng rumah kakek. Di dalamnya, sebuah gulungan kertas bertuliskan aksara kuno. Dengan susah payah, aku menerjemahkannya. Itu adalah *legenda* tentang seorang bidadari yang jatuh cinta pada seorang manusia, dan dikutuk untuk hidup di dalam lukisan selamanya. *Jantungku berhenti berdetak*. Kakekku… dia juga bisa masuk ke dalam lukisan itu? Apakah dia juga mencintai Lian? Apakah selama ini aku hanya menelusuri jejak cintanya yang tak terbalas? Pada halaman terakhir, tertulis sebuah pesan: "Darahmu adalah kunci. Hanya dengan darahmu, kutukan ini bisa dipatahkan." Aku menggenggam kuas, menatap langit merah yang semakin gelap. Kini aku mengerti. Darah yang kulihat di langit bukanlah darah sembarang darah. Itu adalah darah para pelukis, darah para pencinta yang rela berkorban demi cintanya. Aku menggoreskan kuas di nadiku. Darahku menetes ke kanvas, menyatu dengan warna-warna mimpi. Aku menutup mata, dan berbisik, "Aku datang, Lian." ***Pengungkapan itu bagai pisau bermata dua. Aku memecahkan misteri, tapi hatiku hancur berkeping-keping.*** *Apakah kau mendengar bisikanku, di antara angin dan kenangan?*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Rumahan

0 Comments: