**Ia Membaca Chat Lama, Tapi Tak Pernah Balas** Hujan sore itu seperti air mata langit yang tak henti-hentinya tumpah di atas batu nisan. Di bawah payung hitam, Lin Yi berdiri, matanya terpaku pada ukiran nama yang basah: "Li Wei, 1995-2023." Bayangan pepohonan menari-nari di sekelilingnya, **menolak pergi** seolah ikut berduka. Tangan Lin Yi gemetar memegang ponsel. Di layarnya, percakapan terakhir mereka terpampang. *Li Wei, 3 hari sebelum meninggal:* "Lin Yi, aku harus memberitahumu sesuatu..." Pesan itu tak pernah berbalas. Li Wei pergi sebelum sempat menuntaskan kalimatnya. Sekarang, Lin Yi merasakan kehadiran Li Wei di sekitarnya. Bukan dalam bentuk yang menakutkan, melainkan hembusan angin dingin yang menyentuh pipinya, desiran daun yang berbisik lirih. *** Li Wei kembali. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai roh yang terikat pada dunia, terbebani oleh kebenaran yang tak terucap. Ia melihat Lin Yi, hatinya perih. Ia ingin menyentuhnya, memeluknya, tapi hanya udara yang bisa ia rengkuh. Ia hanya bisa mengikuti Lin Yi, membisikkan harapannya dalam mimpi. Lin Yi mulai merasakan keanehan. Mimpi-mimpi aneh, bisikan lirih di telinganya saat sunyi, *deja vu* yang menghantui. Ia merasakan Li Wei bersamanya. Awalnya takut, namun kemudian ia mulai menerima. Ia membuka kembali chat lama mereka, membaca setiap kata dengan seksama. *** Li Wei ingin Lin Yi mengerti. Bukan tentang siapa yang membunuhnya, bukan tentang intrik bisnis ayahnya, bukan tentang **BALAS DENDAM**. Ia hanya ingin Lin Yi tahu... cintanya. *Ia mencintai Lin Yi*. Kalimat itu seharusnya terucap tiga hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Kalimat yang akan mengubah segalanya. Kalimat yang kini hanya bisa dihembuskan sebagai angin dingin di malam sunyi. Lin Yi mulai mencari petunjuk. Bukan petunjuk tentang kematian Li Wei, melainkan petunjuk tentang *kehidupan* Li Wei. Ia mengunjungi tempat-tempat yang Li Wei sukai, membaca buku-buku yang Li Wei baca, mendengarkan musik yang Li Wei dengarkan. Semakin ia menggali, semakin ia merasakan kedekatan dengan Li Wei. *** Di sebuah taman bunga matahari yang luas, tempat favorit Li Wei, Lin Yi menemukan sebuah surat yang tersembunyi di bawah batu besar. Surat itu ditulis oleh Li Wei, ditujukan untuk Lin Yi. *"Lin Yi, jika kau membaca surat ini, itu berarti aku tidak sempat mengatakannya secara langsung. Aku mencintaimu. Maafkan aku karena telah menyimpan perasaan ini terlalu lama. Yang kuinginkan hanyalah kau bahagia, apapun yang terjadi."* Air mata Lin Yi mengalir deras. Di saat itulah, ia merasakan kehadiran Li Wei lebih kuat dari sebelumnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga matahari yang manis. Ia tahu, Li Wei sudah menemukan kedamaiannya. *** Lin Yi tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum *lega*. Ia akhirnya mengerti. Yang Li Wei cari bukanlah pembalasan dendam, melainkan **KEDAMAIAN**. Kedamaian untuk dirinya sendiri, dan kedamaian untuk Lin Yi. Lalu, seolah bayangan memudar di bawah sinar matahari pagi, Li Wei pergi, meninggalkan aroma bunga matahari dan keheningan yang damai... *Apakah akhirnya aku bisa beristirahat?*
You Might Also Like: Kekurangan Moisturizer Tamarind Dengan

0 Comments: