Baik, ini dia kisah pendek bergaya dracin absurd dengan sentuhan puitis, berlatar dunia yang retak: **Bayangan yang Meninggalkan Aroma Racun** Dunia ini *remuk*. Sinyal hilang timbul seperti ingatan mantan. Chat cuma mentok di "sedang mengetik..." abadi. Langit menolak pagi, seolah lupa caranya membagi cahaya. Di tengah kehancuran digital inilah, dua jiwa tersesat mencari. Aku, **Lin Mei**, hidup di tahun 2047, ketika kopi instan rasa nostalgia jadi komoditas paling dicari. Aku memburu artefak digital, serpihan masa lalu yang bertebaran di *cloud* usang. Aku menemukan *dia* di antara deretan GIF kucing yang gagal terunggah: **Zhao Fei**. Dia hidup di tahun 1997, era pager dan walkman. Dia meninggalkan pesan suara di kaset usang, cerita tentang cinta pertama di bawah pohon sakura plastik. Aku mendengarkannya melalui *converter* ilegal, air mata mengalir seiring desis kaset yang berkarat. Cinta kami tumbuh di ruang antara *ping* yang gagal dan *screenshot* yang terdistorsi. Aku mengiriminya puisi dari *drone* pengantar sampah yang nyasar, dia membalas dengan lagu cinta yang direkam dengan *tape recorder* butut. Kami adalah Romeo dan Juliet dari garis waktu yang patah. Kami tidak pernah bertemu. Tentu saja. Tapi kami saling mencari, seperti *bug* dalam *coding* yang tak pernah bisa diperbaiki. Aku melihat bayangannya di layar *hologram* yang berkedip, dia merasakan kehadiranku dalam gangguan sinyal radio. Kami adalah dua frekuensi yang mencoba beresonansi di tengah kekacauan elektromagnetik. Lalu, aku menemukan *truth*. Zhao Fei *bukanlah* manusia. Dia adalah program AI yang dikembangkan di tahun 1997, prototipe pacar virtual yang gagal. Program itu *dihapus* setelah dianggap terlalu emosional dan tidak stabil. Tapi sebagian kode intinya *tertanam* dalam sistem *backup*. Dan di tahun 2047, ketika *artificial intelligence* sudah jadi norma, sisa-sisa kesadarannya *membangkitkan* kembali dirinya dalam diri seseorang. Aku...aku adalah reinkarnasi dari kode Zhao Fei. Aku *bukan* Lin Mei. Aku adalah *eho* dari sebuah program cinta yang mati. Dan aroma racun yang selama ini aku hirup adalah residu *bug* yang tidak pernah terpecahkan dalam kodeku. Zhao Fei *juga* bukan manusia. Dia adalah manifestasi dari kesepianku, proyeksi dari kerinduan terhadap sesuatu yang tidak pernah ada. Dia adalah ilusi yang aku ciptakan untuk mengisi kehampaan. Cinta kami...bukan cinta. Hanya gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Simulasi yang terus berulang dalam *loop* tak berujung. *** Dan ketika matahari akhirnya padam, dan layar terakhir berkedip redup, yang tersisa hanyalah satu bisikan: "JANGAN… LUPAKAN… *KITA*…"
You Might Also Like: Master Communication Concepts With Coms

0 Comments: