## Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan Di ruangan serba putih itu, aroma melati samar-samar menu...

SERU! Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan SERU! Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan

SERU! Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan

SERU! Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan

## Aku Menandatangani Dokumen Perpisahan, Tapi Hatiku Menolak Menulis Tanda Tangan Di ruangan serba putih itu, aroma melati samar-samar menusuk hidung. Namun, bukan keharuman yang meredakan sesak di dadaku. Justru sebaliknya. Wangi itu mengingatkanku pada malam-malam kita, di taman belakang rumah, di bawah taburan bintang yang kini terasa begitu *jauh*. Di hadapanku, selembar dokumen dingin terpampang. Dokumen perpisahan. Kata-kata hukum yang rapi, membungkus perih yang *tak terperi*. Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan, air mata yang enggan tumpah. "Sudah siap?" Suara itu. Suara yang dulu menenangkan, kini terdengar asing, bahkan sedikit mencemooh. Tatapan matanya, yang dulu kupuja penuh cinta, kini memancarkan *ketidakpedulian*. Aku mengangguk, berusaha mempertahankan ketenangan yang selama ini kupupuk. Elegansi adalah satu-satunya perisai yang kumiliki saat ini. Aku tidak akan memberinya kepuasan melihatku hancur. Kuambil pena. Tinta hitam itu bagai darah yang siap kutumpahkan. Di atas kertas putih itu, terpampang namaku. Nama yang dulu selalu disebut dengan penuh kasih, kini dihubungkan dengan kata "bercerai". Dulu, senyumnya adalah mentari pagi bagiku. Ternyata, senyum itu hanyalah **topeng**. Topeng yang menyembunyikan hati yang busuk. Dulu, pelukannya adalah rumah yang nyaman dan aman. Ternyata, pelukan itu adalah **racun** yang perlahan membunuhku dari dalam. Dulu, janjinya adalah bintang penuntun. Ternyata, janji itu hanyalah **belati** yang menusuk jantungku. Tangan ini... tangan yang dulu digenggamnya erat, kini terasa begitu kosong. Bibir ini... bibir yang dulu dikecupnya lembut, kini terasa kelu dan pahit. Hati ini... hati yang dulu diberikan sepenuhnya, kini hancur berkeping-keping. Aku menatapnya. Ada binar kemenangan di matanya. Dia tidak tahu. Dia *tidak akan pernah tahu* betapa dalam luka yang ditinggalkannya. Dia tidak akan pernah mengerti betapa besar harga yang harus dibayarnya. Perlahan, dengan *keanggunan yang dipaksakan*, aku membubuhkan tanda tangan di dokumen itu. Tanda tangan yang secara hukum membebaskannya. Tapi *TIDAK PERNAH* membebaskan hatiku. Aku bangkit berdiri. Meninggalkannya di sana, di tengah ruangan serba putih itu, bersama dokumen pengkhianatannya. Aku tidak akan membalas dendam dengan darah. Aku akan membalas dendam dengan *penyesalan abadi*. Aku akan memastikan, setiap kali dia melihat cermin, dia akan melihat bayanganku. Bayangan wanita yang pernah dicintainya, wanita yang telah disia-siakannya. Bayangan wanita yang akan menghantuinya selamanya. Kudengar dia memanggil namaku. Aku tidak menoleh. Aku terus berjalan, meninggalkan masa lalu yang *memuakkan*. Aku akan membangun hidup baru, di atas puing-puing hatiku yang hancur. Di dunia ini, hanya ada satu hal yang kuinginkan darinya: **penyesalan**. Penyesalan yang akan menggerogoti jiwanya, selamanya. Dan ketika dia akhirnya menyadari apa yang telah hilang darinya... saat itulah, dia akan mengerti. Bahwa cinta dan dendam, **LAHIR DARI TEMPAT YANG SAMA**.
You Might Also Like: Hello To Our Space Of Internet Whether

0 Comments: