**Pelukan yang Tercipta dari Kebencian** Lembayung senja melukis langit kota kuno Liang, tempat Xiulan, gadis penjual teh dengan mata sekelam malam, merasa aneh. Sebuah de javu yang menyayat hati. Seolah jiwanya telah lama bersemayam di jalanan berbatu ini, menyaksikan tragedi demi tragedi. Dia benci kota ini. Benci aromanya, benci suaranya, tapi entah mengapa, kaki Xiulan selalu membawanya kembali. Di seberang jalan, berdiri tegak Paviliun Bulan Purnama, kediaman Tuan Muda Liwei, *pria paling berpengaruh* di Liang. Xiulan benci Liwei. Benci kesempurnaannya, benci senyumnya yang angkuh. Setiap kali mata mereka bertemu, jantung Xiulan berdebar keras, bukan karena cinta, melainkan *kemarahan yang mendidih.* Suatu malam, saat badai menerjang Liang, Xiulan melihat siluet Liwei di jendela paviliun. Kilat menyambar, menerangi wajahnya. Dan seketika, ingatan itu *MENYERBU*. Dia bukan Xiulan, penjual teh. Dia adalah Li Mei, putri mahkota Kerajaan Giok yang dikhianati. Liwei… dulu adalah Li Yuan, jendral kepercayaannya, cinta sejatinya, yang dengan keji menusuk punggungnya, merebut tahta dan membantai keluarganya. Dendam membakar jiwanya. Namun, kali ini, dia berbeda. Dia Xiulan. Dia *tidak* akan mengulangi kesalahan Li Mei. Balas dendamnya tidak akan berdarah, tetapi jauh lebih menyakitkan. Liwei, yang entah bagaimana merasakan kehadiran Xiulan, menuruni tangga paviliun. Di tengah hujan deras, mereka berhadapan. "Xiulan," suara Liwei serak, "Mengapa kau selalu menatapku seperti itu?" Xiulan tersenyum dingin. "Karena aku melihat apa adanya dirimu, Tuan Muda Liwei. Aku melihat bayangan masa lalu yang *MEMBUSUK* di balik topeng kesempurnaanmu." Beberapa bulan kemudian, Xiulan dengan sengaja membuat Liwei jatuh cinta padanya. Dia membiarkannya merasakan kebahagiaan, cinta yang *PALSU*, yang hanya akan membuatnya semakin hancur ketika dia pergi. Di hari pernikahannya, Xiulan menghilang. Meninggalkan surat di meja rias, hanya berisi satu kalimat: *“Li Yuan, kekuasaanmu, cintamu, segalanya akan hancur menjadi debu. Karena karmamu abadi.”* Liwei, yang hancur berkeping-keping, mencari Xiulan ke seluruh penjuru negeri. Dia menemukan petunjuk, bisikan tentang seorang wanita misterius yang menggunakan kekayaannya untuk mendanai para ilmuwan muda, menciptakan teknologi yang akan mengguncang fondasi dunia yang dikuasai Liwei. Balas dendam Xiulan *bukan* tentang darah dan kematian. Ini tentang menciptakan dunia baru, di mana nama Liwei akan dilupakan, di mana kesombongannya akan menjadi bahan tertawaan sejarah. Di sebuah laboratorium terpencil, di tengah pegunungan bersalju, Xiulan menatap langit yang membentang luas. Dia tahu, di suatu tempat, Liwei sedang menderita. Itu sudah cukup. Dia berbalik, menghadap para ilmuwan muda yang menunggu instruksinya. "Mari kita bangun masa depan," katanya, suaranya penuh tekad. Masa depan, di mana dia akan bertemu lagi dengannya, *di kehidupan yang sama sekali berbeda.*
You Might Also Like: Alasan Sunscreen Lokal Dengan Formula

0 Comments: