## Aku Menatapmu Pergi dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak Aula Emas berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin. Pantulan cahaya itu mena...

Kisah Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak Kisah Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Kisah Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Kisah Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

## Aku Menatapmu Pergi dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak Aula Emas berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin. Pantulan cahaya itu menari di atas lantai marmer yang dipoles sempurna, seolah menertawakan kekacauan yang tersembunyi di baliknya. Kaisar Li Wei, duduk tegak di singgasananya, mengamati sekelilingnya dengan tatapan **SEDIKITPUN** tidak ramah. Para pejabat istana membungkuk dalam-dalam, wajah mereka tanpa ekspresi, menyembunyikan ambisi dan pengkhianatan di balik jubah sutra yang mahal. Bisikan tajam tentang perebutan kekuasaan bergema di balik tirai brokat, terlalu pelan untuk didengar namun terlalu kuat untuk diabaikan. Di antara lautan wajah tanpa emosi, Kaisar Li Wei menemukan satu sosok yang selalu berhasil menarik perhatiannya Selir Yufei. Kecantikannya dingin, anggun, bagaikan bunga plum di tengah musim dingin. Mata *tajamnya* mampu melihat menembus lapisan kebohongan dan tipu daya. Dulu, mata itu hanya menatap Li Wei dengan cinta dan pengabdian. Sekarang... sekarang hanya ada kekosongan yang mengerikan. Cinta mereka dimulai bagaikan dongeng. Kaisar, yang lelah dengan intrik istana, menemukan ketenangan dalam diri Yufei yang sederhana. Namun, cinta itu tercemar oleh kekuasaan. Kaisar harus memilih antara wanita yang dicintainya dan kewajibannya terhadap takhta. Akhirnya, ia memilih takhta. "Selir Yufei," suara Kaisar bergema di aula. "Atas pengkhianatanmu kepada kekaisaran... aku memutuskan untuk mengasingkanmu ke kuil terpencil di perbatasan utara." ***Dadaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum.*** Aku, Selir Yufei, menyaksikan Kaisar Li Wei, pria yang dulu kupuja, menjatuhkan hukuman padaku. Tuduhan pengkhianatan itu... menggelikan. Namun, siapa yang akan percaya pada seorang selir yang sudah jatuh? Aku tahu, ini semua adalah konspirasi yang dirancang oleh Permaisuri licik untuk menyingkirkanku. Aku mengangkat daguku, menatapnya lurus di mata. Tidak ada air mata. Tidak ada permohonan. Hanya kehampaan yang dingin. Aku menatapnya pergi dengan tenang, padahal dadaku BERTERIAK. Setiap serat di tubuhku ingin berlari padanya, memohon penjelasan. Tapi aku tidak melakukannya. Aku tahu, cinta kita sudah mati, terkubur di bawah ambisi dan pengkhianatan. Di kuil terpencil, di tengah kesunyian dan kesederhanaan, aku menemukan kekuatan. Kekuatan untuk membalas dendam. Aku mempelajari taktik, menyusun strategi, dan memanfaatkan koneksi tersembunyiku di istana. Aku akan memastikan bahwa mereka yang telah mengkhianatiku akan membayar harga yang setimpal. *Aku akan mengembalikan kehormatanku, bukan dengan air mata, tapi dengan darah.* Bertahun-tahun kemudian, berita tentang kebakaran dahsyat di istana kekaisaran sampai ke telingaku. Permaisuri dan para pendukungnya tewas dalam kobaran api. Kaisar Li Wei, yang selamat, hidup dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Aku, Yufei, berdiri di puncak bukit, menatap ke arah istana yang kini menjadi puing-puing. Angin dingin membelai rambutku. Senyum tipis tersungging di bibirku. Balas dendamku telah selesai. Aku telah membuktikan bahwa *cinta yang dikhianati akan menjadi amarah yang mematikan.* Seorang kurir datang, menyerahkan sebuah gulungan surat yang disegel dengan lambang naga. Surat itu dari Kaisar Li Wei, memintaku untuk kembali ke istana sebagai Permaisuri. Dan sejarah pun… BARU SAJA DIMULAI.
You Might Also Like: Jualan Skincare Reseller Dropship Kota

0 Comments: