**Senyum yang Memecah Langit Duka** Hujan gerimis menari di pelataran Kuil Angin Utara, mengiringi langkah Li Wei yang lunglai. Dua puluh tahun telah berlalu sejak hari itu, hari di mana janjinya pada Mei Hua terhempas badai pengkhianatan. Dua puluh tahun ia hidup dalam bayang-bayang penyesalan, meratapi senyum Mei Hua yang dulu mampu memecah langit duka. Dulu, di bawah pohon plum yang sedang bermekaran, Li Wei berjanji akan membawa Mei Hua pergi, menjauhkannya dari cengkeraman keluarga Zhao yang kejam. "Mei Hua, aku akan menjadikanmu ratuku, dan kita akan hidup bahagia di ujung dunia sana," bisiknya, menggenggam erat tangan halusnya. Namun, janji tinggal janji. Ambisi membakar hatinya, membutakan Li Wei dari ketulusan cinta Mei Hua. Ia memilih menikahi putri keluarga Shen yang kaya raya, demi mendaki tangga kekuasaan. Mei Hua, hancur hatinya, lenyap ditelan malam. Kini, Li Wei adalah seorang jenderal besar, ditakuti dan dihormati. Kekayaan dan kekuasaan ada di genggamannya, tetapi hatinya kosong. Bayangan Mei Hua selalu menghantuinya, terutama saat ia memandang cermin, melihat pantulan wajah tua yang dipenuhi kerutan penyesalan. Di kuil itu, di depan altar yang dipenuhi dupa, Li Wei berlutut. Ia menggenggam liontin giok berbentuk bunga plum, satu-satunya peninggalan Mei Hua. Matanya terpejam, membayangkan senyum Mei Hua yang dulu. Senyum itu, senyum yang tulus, penuh cinta, dan kini... penuh hantu. Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Tirai bambu berayun liar. Seorang wanita, anggun dalam balutan sutra ungu, berdiri di ambang pintu. Wajahnya tertutup cadar. "Jenderal Li Wei," sapa wanita itu dengan suara lembut namun menusuk. "Dua puluh tahun telah berlalu. Apakah penyesalanmu sudah cukup dalam?" Li Wei mendongak, terkejut. "Siapa kau?" Wanita itu tersenyum, sebuah senyum yang anehnya familiar. Perlahan, ia membuka cadarnya. Li Wei terkesiap. Di hadapannya, berdiri seorang wanita yang sangat mirip Mei Hua. Namun, mata wanita ini memancarkan aura dingin, aura yang sama sekali berbeda dari kehangatan Mei Hua. "Aku adalah putri Mei Hua," ucap wanita itu, suaranya bergetar menahan amarah. "Dia meninggal karena patah hati, Jenderal. Meninggal karena JANJIMU YANG DIKHIANATI." Li Wei mencoba meraih tangan wanita itu, memohon ampun. "Aku... aku sangat menyesal! Aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku!" Wanita itu mundur selangkah. "Penebusanmu sudah terlambat, Jenderal. Kebahagiaanmu akan lenyap seperti senja. Kekayaan dan kekuasaanmu akan menjadi debu. Kau akan merasakan sakit yang Mei Hua rasakan." Wanita itu berbalik dan pergi, menghilang di balik tirai hujan. Li Wei terhuyung, merasakan dunia di sekelilingnya berputar. Keesokan harinya, desas-desus tentang pengkhianatan Jenderal Li Wei mulai beredar di istana. Musuh-musuhnya memanfaatkan kesempatan ini, menjatuhkan sang jenderal dari singgasananya. Ia kehilangan segalanya, persis seperti yang diprediksi putri Mei Hua. Takdir, atau mungkin balas dendam yang halus, menuntut keadilan. Li Wei ditinggalkan sendirian, di tengah reruntuhan impiannya, hanya ditemani liontin giok bunga plum dan kenangan akan senyum Mei Hua yang kini terasa begitu pahit. Senyum itu... apakah itu senyum cinta atau senyum dendam yang abadi?
You Might Also Like: Agen Skincare Modal Kecil Untung Besar
0 Comments: