## Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta. Di taman terlarang Istana Bulan, di bawah pohon *sakura* yang tak pernah berhenti menang...

Bikin Penasaran: Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta. Bikin Penasaran: Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta.

Bikin Penasaran: Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta.

Bikin Penasaran: Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta.

## Racun Itu Manis, Karena Dicampur Dengan Cinta. Di taman terlarang Istana Bulan, di bawah pohon *sakura* yang tak pernah berhenti menangis, Bai Lian, sang putri terbuang, bertemu dengan Jenderal Lin, pahlawan yang hatinya telah ia curi sejak usia belia. Bunga-bunga merah jambu berjatuhan bagai salju beracun, membungkus mereka dalam kerinduan yang tak terucap. Lima belas tahun lalu, di bawah pohon yang sama, Lin berjanji. "Lian'er, aku akan melindungimu. Selamanya." Janji yang kini terasa seperti debu di tenggorokan. Lima belas tahun lalu, ia adalah anak laki-laki sederhana dengan mata setajam elang. Sekarang, ia adalah jenderal gagah perkasa, tangannya berlumuran darah, dan *hatinya*...hatinya terikat pada Kaisar yang memerintahkan pembantaian keluarganya. "Lin," bisik Bai Lian, suaranya serak. Jubahnya yang lusuh berkontras dengan seragam sutra emas Lin yang berkilau. "Kenapa kau lakukan ini?" Lin tidak menjawab. Matanya, yang dulu menatapnya dengan binar cinta, kini dingin seperti bilah pedang. Di tangannya, tergenggam erat sebuah kotak kecil berukir naga. Isinya: racun. Racun yang akan mengakhiri hidupnya, atas perintah Kaisar. "Aku...aku tidak punya pilihan," akhirnya Lin berbisik, suaranya parau, nyaris tak terdengar. "Negara..." *Negara?* Bai Lian tertawa hambar. Tawa tanpa sukacita, hanya kepahitan yang menggerogoti jiwanya. Negara yang membantai keluarganya? Negara yang memaksanya hidup dalam pengasingan? Negara yang kini memintanya untuk mati di tangan pria yang dicintainya? "Pilihan selalu ada, Lin," jawab Bai Lian, matanya menatap dalam ke mata Lin. "Kau hanya memilih yang termudah." Lin membuka kotak itu. Aroma manis yang memabukkan memenuhi udara. Racun itu berwarna seperti madu, secantik bunga sakura yang berguguran. Ia menyodorkannya pada Bai Lian. "Minumlah, Lian'er. Ini akan berakhir dengan cepat. Percayalah padaku." Bai Lian menerima racun itu. Air mata mengalir di pipinya, bukan karena takut mati, tapi karena pengkhianatan. Ia menatap Lin sekali lagi, mencoba mencari sisa-sisa anak laki-laki yang dulu berjanji untuk melindunginya. Yang ia temukan hanya tatapan kosong seorang prajurit yang patuh. Dengan bibir bergetar, Bai Lian meneguk racun itu. Manisnya menjalar di lidahnya, diikuti sensasi terbakar yang menyakitkan. "Kau...kau akan menyesal," bisik Bai Lian, sebelum tubuhnya limbung ke tanah. Lin menangkapnya, mendekapnya erat. Air mata akhirnya mengalir di pipinya. Penyesalan menusuk jantungnya bagai ribuan jarum. Ia telah membunuh cinta sejatinya, demi kesetiaan buta pada seorang tiran. Beberapa bulan kemudian, Kaisar jatuh sakit. Sakit yang aneh, yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib kerajaan manapun. Kulitnya menguning, rambutnya rontok, dan tubuhnya melemah setiap hari. Penyakit itu perlahan tapi pasti merenggut nyawanya. Sementara itu, Jenderal Lin, yang setia melayaninya sampai akhir, menjadi satu-satunya pewaris tahta. Ia memerintah dengan bijaksana dan adil, membawa kedamaian dan kemakmuran bagi negara. Tapi setiap malam, di dalam kamarnya yang sunyi, ia dihantui bayangan Bai Lian, senyum pahitnya, dan kata-kata terakhirnya. Suatu pagi, saat meminum tehnya, Lin merasakan rasa manis yang aneh di lidahnya. Rasa yang sangat familiar. Rasa *sakura* dan...penyesalan. Ia menatap cangkirnya dengan ngeri. Di dasarnya, ada endapan berwarna madu. *Siapa yang bisa mengira, bahwa balas dendam itu diracik dengan begitu lembut?*
You Might Also Like: 140 Unmasking Anonymity Why People Hide

0 Comments: